Pengaruh Globalisasi Terhadap Budaya Suku Bangsa di Indonesia*
Judul tulisan ini sebelumnya pernah Saya sampaikan pada pelaksanaan
Advance Training (Latihan Kader-III) Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa
Islam (BADKO HMI) Kalimantan Barat yang belum lama ini telah selesai di
laksanakan. Dari persentase yang Saya sampaikan, ternyata pada akhirnya
banyak mengundang Pro dan Kontra pada makalah tersebut.
Saya akan menjelaskan suatu hal yang menjadi dilematis antara Arus
Globalisasi VS Budaya suku bangsa di Indonesia. Perubahan sosial
merupakan merupakan perubahan dari budaya. Perubahan dari kebudayaan
mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan,
teknologi, filsafat, dan lain sebagainya. Perubahan Kebudayaan suku
bangsa di Indonesia ini ternyata telah tercampur adukkan oleh masuknya
kebudayaan asing, lebih parahnya lagi Globalisasi sudah merajalela
secara besar-besaran dan terang-terangan.
Indonesia yang merupakan Negara yang kaya akan keanekaragaman kebudayaan
suku Bangsa dan juga di anggap sebagai Negara yang sedang berkembang
ini, Indonesia di tuntut untuk menjadi Negara yang lebih maju dari
berbagai aspek. Faktanya adalah bahwa Negara Indonesia terkesan berjalan
lambat untuk mengalami kemajuan di mata Negara-Negara yang berada di
Benua Amerika dan Eropa. Terus, apa yang menjadi kendalanya?
Di Indonesia, gaung globalisasi sudah terasa sejak pertengahan abad
ke-20, dalam hal ini bangsa Indonesia memang sudah harus bersiap-siap
untuk menerima kenyataan masuknya pengaruh asing terhadap berbagai aspek
di Indonesia khususnya dalam Kebudayaan suku bangsa. Bagi Indonesia
aspek kebudayaan merupakansalah satu kekuatan yang memiliki nilai yang
beragam dan juga merupakan identitas bahwa Indonesia memang benar
mempunyai keaneka ragaman kebudayaan Suku bangsa yang juga di perkuat
lagi melalui Bhinneka Tunggal Ika. Hal yang terpenting di dalam
kebudayaan Indonesia sebagian besar terdapat di Keseniannya karena
memang banyak masyarakat awam yang mengatakan bahwa kebudayaan itu
adalah kesenian. Banyak contoh yang dapat kita lihat dalam hal kesenian
budaya seperti di Seni Pahat, Wayang, Musik daerah, Kerawitan, Seni
rupa, yang sampai pada hari ini yang terus mempertahankan itu adalah
warga Indonesia yang sangat cinta akan keberagaman seni dan budaya
Indonesia (minoritas).
Seiring berjalannya waktu seni dan budaya asli daerah dari suku bangsa
yang ada di Indonesia, sedikit demi sedikit mengalami perubahan yang di
karenakan derasnya arus globalisasi yang di dominasi oleh Negara barat.
Banyak yang melontarkan dua hal yang susah untuk di tarik benang merah
dari permasalahan tersebut oleh pakar-pakar kebudayan seperti Simon
Kemoni yang juga merupakan sosiolog asal Kenya,mengatakan bahwa
globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan
nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha
menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka
dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut
Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi
budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak
dieliminasi oleh budaya asing. Selain itu Seorang penulis asal Kenya
bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat,
khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap
rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa
pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari
indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya
asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui
imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama
globalisasi.
Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni
perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih
terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai
dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar.
Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan
batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung
mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga
melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang
hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu
sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak
tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti
Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah
air.
Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola
yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu,
kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd
yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di
tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa
negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang
kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa
transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap
keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan
bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga
kelestariannya. Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang
semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif
tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih
menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan
parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang
bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi. Kondisi yang
demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional
Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan
dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi
kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu
berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian, yang kesemua
itu sedikit demi sedikit akan tersingkir.
Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses
industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi,
maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi
komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan
kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian
tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih
menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa
harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi
atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh,
sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi
masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati
berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan
kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional Tarian Tiga Etnis
(Melayu, Dayak, Tiong Hoa, yang sering kita dengar kini sudah tidak lagi
pernah tampak di permukaan. Hal ini sangat disayangkan mengingat tarian
Tradisional merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia
yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu
agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya
adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di
Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”.
Kesenian tersebut di atas merupakan contoh kecil mulai terdepaknya seni
dan Budaya Bangsa akibat arus globalisasi. Dilematisnya apakah Indonesia
sebagai Negara yang sedang berkembang harus tetap menjadi Negara yang
terus maju namun kehilangan identitas kebudayaannya yang beragam?
Ataukah Indonesia tetap terus menjaga kelestarian Seni dan Budaya secara
utuh dengan konsekuensinya adalah Indonesia akan terus lambat
berkembang dari Negara lain?
*) Wandy, Mantan Wasekum Eksternal Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Kalimantan Barat.
