Jebakan Istilah Lulus

Asep Sapa’at
Asep Sapa’at, Pemerhati Karakter Guru di Character Building Indonesia

IndecsOnline--Cermati ekspresi siswa Indonesia ketika dinyatakan lulus, hampir tak pernah seragam. Hal yang amat kontras dengan sistem evaluasi Ujian Nasional (UN) yang wajib di-SERAGAM-kan. Ada siswa yang bersujud syukur karena lulus. Meski dilarang, aksi corat-coret seragam masih jua terjadi. Yang terkini, joged bersama di jalanan. Yuk ‘joged lulus’, goyang. Tepok jidat deh.

Kata lulus jelas punya makna, tersurat maupun tersirat. Makna itu bisa dipahami karena usaha berpikir seseorang. Hasil pemikiran bisa lahir karena baca buku, diskusi dengan orang lain, atau percaya begitu saja apa kata orang. Ekspresi sikap saat lulus, itulah wujud hasil berpikir siswa dalam memaknai kata ‘lulus’.

Cara sekolah mendidik turut mempengaruhi gaya berpikir dan bersikap siswa dalam menyikapi sesuatu. Inilah persoalan utamanya, mengapa sekolah tak berhasil mendidik anak-anaknya untuk bersikap baik ketimbang berperilaku urakan dalam merayakan kelulusan? Mengapa perilaku baik siswa tak bisa diseragamkan saat pengumuman kelulusan?.

Memang banyak siswa bisa lulus ujian. Tapi berapa banyak siswa yang bisa menggunakan kelulusannya dengan baik? Banyak siswa keliru memahami makna lulus, maka apa yang telah diajarkan di sekolah? Sudah selesaikah tugas mendidik siswa setelah mereka lulus?

Jika siswa Indonesia lulus UN, kita boleh senang tapi tak boleh sombong. Apalagi terbuai indahnya kata ‘lulus’. UN itu baru menguji kadar pengetahuan siswa. Sesuatu yang mudah dihitung, terukur, tapi belum tentu berharga bagi masa depan siswa.

Siswa SMA saat melaksanakan ujian nasional. Yang jadi soal, yakinkah semua siswa kita jujur jawab soal-soal UN? Siswa Indonesia yang senang bukan kepalang karena lulus lewat cara curang, bukti pendidikan karakter hanya wacana saja. Sesuatu yang tak pernah disadari, tak dianggap kekeliruan, dan tak pernah menggerakkan pengambil kebijakan untuk bertobat. 

Persoalan mendasar pendidikan kita adalah tak bisa bedakan makna mengajar dan mendidik. Mengajar itu transfer pengetahuan. Mendidik bicara soal proses berbudi pekerti, latihan tiada henti untuk membenahi perilaku.

Lulus UN itu baru sebatas bicara potret keberhasilan mengajar. Yang entah apakah cara mengajar guru berbanding lurus dengan hasil UN atau sebaliknya. Pemerintah tak pernah ungkap jelas soal yang satu ini. Yang sudah dilakukan, nama-nama siswa yang bertengger di urutan 20 – 25 peraih nilai UN tertinggi dipublikasikan di media cetak.

Untuk apa dan untuk siapa data itu? Mengapa tak sekalian disampaikan ke publik nama-nama pejabat publik, oknum kepala sekolah, oknum guru, dan semua yang terlibat kecurangan UN? Biar top markotop datanya. 

Dunia adalah sarana bagi manusia melewati babak perjalanan hidup. Sesekali penuh intrik. Tak jarang banyak episode senda gurau. Simak hal unik dan menarik dari fenomena UN. Ada siswa mengulang 3 kali ikut UN karena bercita-cita ingin lulus dengan cara jujur. Sang juara kelas bisa tak lulus UN. Yang bunuh diri karena tak siap menghadapi kenyataan tak lulus UN juga masih ada saja. Bisakah pengambil kebijakan kita berpikir?

Jujur sesungguhnya normatif, tak istimewa-istimewa amat. Namun jujur terlanjur jadi barang langka hingga amat luar biasa di Indonesia. Dalam masyarakat sakit, yang korupsinya akut, siswa jujur dianggap sakit, aneh, dan pandir sekali.

Tapi lihat siswa yang berjoged-joged ria, ugal-ugalan di jalan, corat-coret seragam, meski lulus pun, kita terkesiap, mau jadi apa mereka? Apalagi jika lulus dengan culas, apa yang bisa diharap dari generasi seperti ini? Apakah perilaku mereka hasil pendidikan kita selama ini?

Jika kata ‘lulus’ kita umpamakan bermakna sukses, maka proses berjalan tak bisa dikatakan sukses. Karena sejatinya lulus ujian di bangku sekolah adalah sebuah proses perjalanan. Setelah lulus SD, ada ujian di SMP. Setelah ujian SMP dilewati, ujian di SMA siap menghadang, dan seterusnya. Permainan belum benar-benar berakhir.

Pun ketika kita sudah lulus meraih gelar doktor, misalnya, apakah kita sudah benar-benar lulus? Jika pun terpaksa kita katakan lulus adalah sukses, maka hakikatnya itulah kesuksesan semu yang bersifat sementara. Dan hal itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban, beranikah katakan lulus?

Karena kehidupan terus berjalan, maka mampukah kita bisa lulus dengan predikat baik atau buruk saat kita wafat? Itulah yang jadi misteri dan tak pernah mudah diprediksi. Dan sadarilah, masa depan kita terletak pada akhlak perilaku kita, bukan semata karena kehebatan isi kepala kita, limpahan kekayaan, menterengnya jabatan, dan aspek materi lainnya.
Saya khawatir pelajaran seperti ini lupa diajarkan di keluarga dan sekolah-sekolah kita. Dan pendidikan pun berlangsung tanpa nilai-nilai. Salah satu faktor yang membuat anak-anak kita mudah kehilangan arah dan cenderung tak punya jati diri.
sumber: republika.co.id

01.35 | Posted in , , | Read More »

Minta Test Masuk Sekolah Dihapus, Mahasiswa Demo

Pamekasan, 22/5 (Media Madura) – Sejumlah aktifis dari berbagai organisasi, yakni Samar, Kalam, GPRS, KAPAK, GSM mendatangi kantor DPRD Pamekasan menuntut agar test masuk sekolah di Kabupaten Pamekasan dihapus.
Kordinator aksi itu, Elmanduro dalam orasinya mengatakan, test masuk sekolah hanya akan membuat siswa miskin tidak mempunyai peluang untuk sekolah di sekolah negeri, sebab dengan adanya test rentan dengan kolusi,korupsi dan nepotisme.
“Kami menuntut agar test masuk sekolah yang diselenggarakan di berbagai sekolah, baik ditingkat SMP maupun SMA untuk dihapus, sebab akan memberikan peluang untuk KKN, tetapi cukup direngking berdasarkan hasil UN,” teriak Elman dalam orasinya.
“Kalau masih sistem test maka peluang untuk main uang sangat besar, jiak begitu maka orang miskin tidak mempunyai pelung untuk sekolah di sekolah negeri yang bagus karena tidak mampu membayar,” tegasnya.
Sementara itu, Kadisdik Pamekasan Yusuf Suhartono kepada peserta aksi mengatakan, pihaknya akan memenuhi permintaan mahasiswa untuk menghapus test masukan sekolah yang telah dijalankan oleh Disdik selama beberapa tahun sebelumnya.
“Nanti pelaksanaannya dengan Danem, dan Danem itu nanti digunakan untuk mendaftarkan ke sekolah yang dituju, dan sekolah diminta untuk merengking,” katanya kepada sejumlah wartawan.
Yusuf mencontohkan, setiap siswa yang mendaftar ke sekolah, nantinya akan dirangking setiap hari, sehingga siswa yang danemnya tidak cukup maka masih bisa mendaftar ke sekolah lainnya.
“Jadi kalau sudah penutupan, ternyata masih ada sekolah yang masih belum memenuhi pagu, batas maksumum murid yang harus diterima itu, maka kita beri waktu untuk gelombang kedua,” paparnya.
Terkait uang pendaftaran, kata Yusuf, yakni sebesar Rp.15.000 untuk seluruh siswa yang hendak mendaftar dan mengambil formulir di sekolah yang ditunju.
sumber: mediamadura

23.41 | Posted in , | Read More »

Guru Pukul Murid Langgar UU Sisdiknas

Guru tengah mengajar (ilustrasi)
JAKARTA -- Kekerasan terhadap siswa kembali terjadi untuk kesekian kalinya. Kasus pemukulan oknum guru terhadap muridnya, tampaknya masih saja mewarnai wajah dunia pendidikan di Indonesia.

Kasus yang terbaru, adalah aksi pemukulan yang dilakukan seorang oknum guru SMPN 4 Lingsar, Mataram, NTB. Oknum guru Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) tersebut tidak tanggung-tanggung memukul lima siswa kelas VIII SMPN 4 Lingsar. Penyebabnya, karena kelima siswa tersebut tidak membawa buku lembar kerja siswa (LKS). Kelima siswa itu dipukul dengan pecahan batu bata pada bagian kepala.

Menanggapi peristiwa itu, Sekjen Komnas Pendidikan Andreas Tambah mengatakan,  pihaknya sangat prihatin dengan perilaku guru yang seperti itu. Memukul siswa dengan pecahan batu bata, berarti oknum guru tersebut telah melakukan kekerasan.
''Oknum guru tersebut sudah melanggar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang melarang penggunaan kekerasan dalam mengajar. Selain itu dia juga melanggar HAM,'' kata Andreas, Rabu, (5/3).

Kebanyakan kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswanya, terang Andreas, tidak diselesaikan secara damai dalam internal satuan pendidikan. Hal itu karena  posisi pendidikan dalam posisi tawar. Dia melihat, untuk kasus kekerasan yang dilakukan guru, sudah tidak ada kewibawaan lagi, sehingga kasus seperti ini larinya ke jalur hukum atau ke kepolisian.

Pemerintah, ujar Andreas, harus melakukan tindakan tegas terhadap oknum guru yang berbuat kekerasan. Harus ada sanksi administrasi, misalnya dimutasi ke daerah lain atau golongannya diturunkan agar jera.

Dengan adanya sanksi tegas, kata dia, diharapkan akan membuat guru-guru lain berpikir panjang sehingga tidak akan melakukan kekerasan. ''Kalau oknum guru tersebut hanya diskors tidak boleh mengajar beberapa bulan, itu malah keenakan dan tidak membuat jera,'' ujarnya.

Sebenarnya, ujar Andreas, guru berperilaku keras atau kasar memang sudah ada dari zaman Belanda. Ini terjadi karena pemerintah tidak tegas. Bahkan terkadang Kepala Dinas Pendidikan di daerah menutupi kekerasan yang dilakukan guru kepada muridnya.

Sementara itu anggota Komisi X DPR RI  dari Fraksi PKS, Surahman Hidayat menyesalkan masih adanya kekerasan oknum guru terhadap murid. Guru seharusnya memberi contoh dan tauladan, khususnya kepada para siswanya di dunia pendidikan dan umumnya pada masyarakat.

Kemendikbud, ujar Surahman, harus melakukan pembenahan dan penyadaran pada para guru di tanah air terkait fungsi dan tugas guru. Hal ini karena nasib generasi penurus bangsa ini berada di tangan guru.

Seorang guru, kata dia, harus memiliki keseimbangan, antara kecerdasan intelektual dan moral. Seorang guru yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan kecerdasan moral yang tinggi, maka akan memberikan pengaruh terhadap siswanya.


Menanggapi masih adanya oknum guru yang melakukan kekerasan tersebut, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud Ibnu Hamad menyesalkan peristiwa tersebut. Menurutnta, pemukulan, apalagi menggunakan pecahan batu bata tentu sangat tidak dibenarkan. ''Kalau memang siswa tidak membawa LKS, guru seharusnya bisa mengingatkan besok harus membawa LKS, bukan dipukul, " kata Ibnu di Jakarta, Rabu, (5/3).

Pemukulan terhadap siswa, ujar Ibnu, merupakan sikap yang tidak mendidik. Namun soal sanksi kepada oknum guru tersebut, menurutnya, kepala sekolah yang lebih berwenang.

Kepala sekolah kata dia, merupakan guru yang memiliki kewenangan sebagai manager sekolah. Ia berhak mengevaluasi oknum guru terlebih dahulu,lalu memberikan sanksi yang pas kepadanya.

Selain mengevaluasi guru yang bersangkutan, kepala sekolah  juga bisa membawa masalah ini ke level dewan guru. Jika keputusan masih sulit diambil, kepala sekolah  bisa berdiskusi dengan kepala dinas pendidikan setempat.

Posisi guru juga merupakan PNS daerah. Karena itu, pimpinan daerah setempat yang bisa mengambil keputusan terhadap oknum guru tersebut.


Kasus pemukukan terhadap lima siswa SMPN 4 Lingsar, kini sudah ditangani oleh kepolisian setempat. Salah seorang siswa berinisial A telah melaporkan aksi kekerasan tersebut. ''Kekerasan yang dilakukan oleh guru itu, sudah berulang kali dilakukan dan kali ini sudah keterlaluan," kata Divisi Hukum dan Sosial Yayasan Perduli Anak, Ramdani Hamdi di Lombok Barat, Selasa (4/3).

Menurut Ramdani, pemukulan ini sudah dilaporkan ke Polsek Lingsar dengan nomor laporan LP/19/III/2014/NTB/Res Mtr/ Sek Lingsar tanggal 3 Maret 2014. Menurutnya, pelaporan ini bermula saat siswa korban pemukulan pulang dengan kondisi kepala benjol. Melihat kondisi tersebut, Ramdani lantas mengantarkan A ke pusat pengobatan guna mendapatkan pengobatan dan dilakukan visum.


Dia mengatakan, dugaan aksi kekerasan oleh oknum guru tersebut bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya korban juga pernah dipukul menggunakan kayu karena lupa membawa buku gambar. n dyah ratna meta novia/antara ed: andi nur aminah

Informasi dan berita lain selengkapnya bisa dibaca di Republika, terimakasih.

sumber; Republika

21.50 | Posted in , | Read More »

BADAYA UNAS


Oleh : Endang Kelana, S. Sos

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 mei ini mendapatkan hadiah dari pemerintah yaitu berupa tidak terlaksana Ujian Nasional (UNAS) secara serentak dan adanya penolakan UNAS 2013 dari berbagai kalangan baik itu dari gurua-guru dan masyarakat, sehingga adanya pro dan kontrak antara mendikbud dan guru-guru yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah mengenai UNAS. Akan tetapi di dalam pelaksanaan UNAS itu sendiri masyarakat memiliki budaya tersendiri yaitu budaya sebelum dan sesudah UNAS.

Pertama budaya spiritual, salah satunya  di Kudus, Jawa Tengah. Guru sekolah mengajak muridnya berziarah ke makam Sunan Kudus untuk mencari berkah agar lulus ujian. Sedangkan di Bogor dan Semarang, ada sekolah yang mengundang motivator dan psikolog untuk mempersiapkan mental dan semangat siswa. Nah, cerita-cerita menarik tentang ritual persiapan para pelajar menjelang UNAS memang menggelitik. Ada juga  ritual siswa mencuci kaki ibu sebelum mengikuti ujian. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun. Ritual-ritual itu masih dilestarikan hingga kini. Dan dari berbagai ritual itu sepertinya ada yang dilakukan secara individual, ada juga yang dilakukan secara kolektif atau massal. Dari yang lazim hingga yang sedikit mengherankan, bahkan ada juga yang berbau syirik.

Sebagai  seorang muslim kita memiliki kewajiban melaksanakan shalat yang lima waktu, namun kewajiban ini belum tentu kita laksanakan dengan istiqomah, padahal disela-sela shalat lima waktu itu ada waktu yang mustajab untuk  berdo'a dan  memohon pertolongan Allah SWT, selain shalat lima waktu, juga terdapat amalan lain yang memiliki faedah luar biasa diantaranya adalah shalat malam atau shalat tahajjud.

Jika kita mengetahui manfaat dari amalan-amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ini maka kita tidak akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran islam, apalagi berpotensi pada terjerumusnya pada lembah kesyirikan.

Kedua budaya menyontek, budaya ini sudah hal biasa ketika pelaksanaan UNAS tiba, sehingga aneh sekali kalau ada seorang murid/ anak didik yang melaporkan kepada dinas pendidikan, salah satunya yang dialami oleh anak SD Negeri Gadel 2 Surabaya. Seorang anak pintar, putra Ny Siami, dipaksa wali kelasnya memberikan contekan secara massal kepada teman-temannya pada saat Ujian Nasional SD dua tahun yang lalu. Tidak setuju dengan tindakan guru sekolah tersebut, Ny Siami melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Surabaya.

Akibat perbuatan guru wali kelas tersebut, Dinas Pendidikan kemudian memberi hukuman mutasi dan penurunan pangkat kepada oknum guru dan kepala sekolah (yang dianggap ikut bertanggung jawab). Yang sangat prihatin pada waktu itu warga sekitar sekolah yang tidak lain orangtua murid-murid SDN Gadel 2 tidak terima dengan hukuman tersebut, mereka marah kepada Ny Siami dan keluarganya. Warga berunjuk rasa dan mengecam Ny Siami yang dianggap sok pahlawan, dan puncaknya warga mengusir keluarga Ny Siami keluar dari kampung.

Inilah sebuah fakta seorang yang ingin berbuat jujur tapi orang sekitarnya tidak menyukainya. Memang sulit untuk menjadi orang jujur dan bersih dari pada menjadi orang yang tidak jujur dan kotor. menjadi orang baik dan jujur itu perlu niat, tekad dan usaha yang istiqamah, sebaliknya,  menjadi orang kotor sangatlah mudah.

Ketiga budaya coret-coret dan  konvoi, dalam hal ini pemerintah lembaga pendidikan dan penegak hukum masih belum bisa mengatasi masalah ini kita lihat saja grafik dekadensi moral pelajar tampaknya makin naik. Jika di tahun 2010 saat konvoi perayaan kelulusan SMA, sejumlah siswi menyobek roknya serta melepas kerudungnya dan lalu dikibar-kibarkan, dan di tahun yang lalu ada siswi yang kedapatan bertelanjang dada, serta perbuatan amoral lainnya seperti berfoya-foya, pesta minuman keras dan semacamnya.

tahun lalu, disebuah daerah, konvoi kelulusan ratusan pelajar lulusan SMA, SMK, dan MA diwarnai aksi penjarahan kepada para pedagang kaki lima dan mengambil berbagai jenis makanan ringan dan minimum. Akibatnya, di antara pedagang itu ada yang mengaku rugi setengah juta rupiah. Selain berkonvoi, ada juga yang melanjutkan pesta mereka dengan melakukan mesum, sex dan dugem.

Apa yang diperagakan pelajar di atas, membuat 'sempurna' kenyataan pendidikan di Negara ini, bahwa mayoritas lembaga pendidikan masih belum mampu melahirkan individu-individu berkarakter dan berbudi luhur, dan tentulah itu semua menambah keprihatinan kita, di tengah banyaknya jumlah pelajar yang tak lulus UNAS, malah yang lulus merayakannya dengan cara yang jauh dari kesan kaum yang beradab.

kejadian-kejadian itu haruslah menjadi kajian dan evaluasi terhadap proses pendidikan yang diselenggarakan oleh pelaku dan stake holder pendidikan di Negara ini, kajian dan evaluasi dilanjutkan dengan melakukan perbaikan sistem pendidikan, kurikulum, sistem pengajaran,  dan sebagainya.






18.51 | Posted in | Read More »

Revolusi Seksual dan Reproduksi Mulai Marak di Kota Besar


YOGYA,  – Revolusi seksual dan reproduksi, dewasa ini telah mulai marak terjadi di sejumlah kota besar yang ada di Indonesia. Kondisi tersebut terutama terjadi pada kalangan remaja dan kelompok usia subur.
Demikia disampaikan pakar Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Siswanto Agus Wilopo, dalam pidato pengukuhan guru besar di Balai Senat UGM, Selasa (16/4).  Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena remaja saat ini kerap mengikuti perilaku seks yang bersumber dari tren budaya barat.
Siswanto memaparkan, institusi publik dan masyarakat akan semakin sulit mengendalikan perilaku seksual dan reproduksi tersebut.
“Karena dalam era globalisasi saat ini, meluasnya pengggunaan teknologi komunikasi elektronik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kondisi tersebut bisa terjadi.,”tuturnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga makin membuat penggunaan kontrasepsi semakin marak. Yang dikhawatirkan, lanjutnya, adalah penyalahgunaan alat kontrasepsi tersebut, terutama di kalangan remaja.
“Para remaja ini seharusnya perlu diajarkan pemahaman tentang penggunaan dan untuk menghindari penyalahgunaan kontrasepsi terkini,” katanya.
Ia menambahkan, peredaran obat dan alat kontrasepsi emergensi, serta aborsi medis juga perlu upaya  pengendalian secara tepat dan ketat. Hal itu dimaksudkan agar alat dan obat tersebut tidak memberikan dampak negatif yang lebih buruk.
Selain itu Siswanto juga menuturkan, pelayanan teknologi kotrasepsi dan kesehatan reproduksi yang jatuh pada seseorang yang tidak profesional akan sangat membahayakan masa depan si remaja.
“Seperti halnya pisau dapur yang sangat tajam, obat bisa dipakai untuk memasak makanan enak atau sebaliknya bisa tidak mengenakkan karena dipakai untuk pembunuhan,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia berujar, kebijakan dengan sistem harm reduction perlu diberlakukan untuk obat-obat kesehatan reproduksi. Tujuannya agar hak-hak seksual dan reproduksi bagi seseorang yang memiliki perilaku berisiko tinggi tidak hanya dibiarkan, tetapi juga bisa memperoleh perlindungan. 
 
“Untuk itu semua pihak harus memahami arah perkembangan teknologi kontrasepsi dan juga dampaknya bagi kesehatan,” pungkasnya. (tribunnews.com) 

03.15 | Posted in , | Read More »

Kakek Ini Peserta UN, Semangati Pelajar Yang Masih Muda

Kakek Peserta UN Semangati Pelajar Yang Masih MudaJAKARTA -- Abdullah Sani, kakek berusia 69 tahun yang ikut Ujian Nasional (UN) Paket C untuk memperoleh ijazah setara SMA menasehati generasi muda untuk memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan sebaik mungkin.

"Saat ini ekonomi susah, sekolah mahal, kalo ada kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin," ujarnya saat ditemui usai mengikuti ujian Paket C di Perguruan Al-Muhajirin, Depok, Senin (15/4/2013).

Ia mengatakan anak muda sekarang harus kreatif dan memanfaatkan peluang. Jika harga buku mahal, cari buku-buku yang bisa terjangkau, misalnya beli buku bekas atau pinjam ke kenalan yang punya.

Sani mencontohkan dirinya yang tetap bersemangat di usianya yang tidak lagi muda untuk terus berusaha menimba ilmu. Ia jua mengaku tidak malu untuk tetap mengejar pendidikan meskipun sudah berumur lanjut.

"Buat apa malu, saya tidak malu," tegasnya.

Kakek tiga orang cucu yang datang diantar keponakannya itu mengaku tetap semangat dan yakin dengan ujian yang ia jalani. Ia bahkan berencana untuk lanjut ke jenjang kuliah jika berhasil lulus dalam ujian.

"Saya mau kuliah," tukasnya bersemangat.(tribunnews.com)

06.26 | Posted in | Read More »

Ujian Nasional Hari Pertama Mengecewakan

JAKARTA— Ujian Nasional (UN) hari pertama siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Senin (15/4/2013) diwarnai dengan keluhan Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN) yang berkualitas rendah sehingga mudah sobek. 

Peserta UN mengeluh soal kualitas Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN) yang sangat tipis sehingga mudah sobek. Arita Gloria Zulkifli (16), seorang siswa SMA Charitas merasa kecewa dengan kualitas LJUN yang tidak layak. 

"Kami mendapat selembar kertas 'se-level' kertas HVS yang biasa saya gunakan untuk coret-coret. Bahkan ketika bulatan yang dipilih dihapus, cetakan nya ikut terhapus. Beberapa nomor yang saya hapus nyaris bolong kertasnya ketika hendak dibulatkan kembali. Bukan itu kualitas yang kami harapkan,"ujarnya. 

Bayangkan betapa riskannya LJUN tersebut. Padahal, siswa selalu diwanti-wanti agar LJUN tetap rapih dan tidak bolong, karena setiap LJUN sudah dilengkapi dengan barcode yang disesuaikan dengan barcode lembar soal masing-masing siswa. 

"Awalnya saya mengira hanya saya yang bernasib buruk mendapat lembar jawab yang tipis, tapi ternyata semua juga mengalami hal yang sama. Kami hanya takut usaha keras belajar kami berpotensi gagal karena kualitas LJUN yang buruk. Apa anggaran sejumlah milyaran rupiah tidak cukup untuk memberikan kami kualitas kertas yang lebih baik?" ujar Arita penuh kekecewaan. 

Pengawas Ujian Nasional tidak dapat berbuat banyak. Guru-guru hanya bisa berpesan agar lembar jawab peserta UN tidak rusak dan dapat terbaca komputer. Sejumlah siswa mengaku kualitas lembar jawab try out bahkan lebih baik daripada lembar jawab Ujian Nasional yang mereka dapatkan. (kompas.com)   

06.09 | Posted in , | Read More »

TOLAK KURIKULUM 2013


Sejumlah guru yang tergabung dalam Koalisi Tolak Kurikulum 2013 menggelar aksi di depan Istana Negara, Jakarta, (Jumat 12/4). Mereka meminta Presiden SBY menolak kurikulum 2013 karena tidak memiliki urgensi dan tujan yang tepat dalam meningkatkan mutu pendidikan (rmol.co)

09.03 | Posted in | Read More »

Perubahan Paradigma Guru Lebih Penting daripada Mengubah Kurikulum!


JAKARTA--Saat ini perlu perubahan paradigma guru dalam proses belajar mengajar. Dan ini lebih penting dilakukan saat ini daripada mengubah kurikulum pendidikan yang terkesan terburu-buru.

Pemerhati pendidikan dari Komunitas Katolik dan Protestan Peduli Pendidikan Indonesia (K2P3I), Romo Mardiatmadja, mengatakan, selama ini guru hanya sebagai mentor atau pendamping murid dalam proses belajar mengajar di kelas. Seharusnya, selain sebagai pengajar, guru juga dapat bertindak sebagai teman berkomunikasi bagi murid.

"Konsep pendidikan yang integratif didasari oleh filosofi pendidikan yang memerdekakan peserta didik untuk mampu mengeksplorasi, kreatif, dan menjadi dirinya sendiri. Membutuhkan sebuah proses menjadi manusia yang merdeka," ujar Romo Mardiatmadja usai jumpa pers di kantor Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Cikini Jakarta Pusat (Senin, 8/4).

Dalam kaitan dengan itu, lanjutnya, dibutuhkan perubahan paradigma guru sebagai teman, rekan, partner dalam proses belajar. Bukan sebagai pawang atau mentor belaka.

"Kami memandang bahwa saat ini perubahan paradigma guru lebih prioritas dibandingkan perubahan kurikulum," kata Romo Mardiatmadja.

Dia menambahkan, daripada anggaran sebesar Rp 2,49 triliun digelontorkan untuk perubahan kurikulum yang dibuat tergesa-gesa lebih baik dialokasikan untuk pengadaan pusat-pusat pelatihan guru. Agar guru memiliki perubahan paradigma yang signifikan dalam mengajar.

"Tanpa perubahan paradigma, perubahan kurikulum tidak ada artinya. Dan, hanya sekedar menghabiskan anggaran negara," tegas Romo Mardiatmadja yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. [rmol.co]

04.23 | Posted in , | Read More »

Ini Sejumlah Keanehan di Dalam Draft Kurikulum Pendidikan 2013


Ini Sejumlah Keanehan di Dalam Draft Kurikulum Pendidikan 2013IndecsOnline--Aliansi Revolusi Pendidikan yang terdiri dari beberapa forum seperti Federasi Serikat Guru Indonesia,(FSGI), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), serta  Forum Guru Independen Indonesia (FGII) menyatakan penolakan atas Kurikulum 2013 yang diajukan Kementerian Pendidikan. 


Aliansi ini menolak susunan draft Kurikulum 2013 karena dianggap tidak mengerti konteks Pendidikan sebagai alat untuk menciptakan manusia-manusia kreatif.

Retno Litsyari, perwakilan dari  FSGI, menilai draft ini sudah melenceng dari keberadaan dunia  Pendidikan yang seharusnya mendidik murid. Dengan UU ini Pendidikan hanya bermodalkan kepada buku teks belaka.
Menurutnya ada beberapa hal yang dapat mereduksi kreativitas seperti adanya pengkajian teori matematika berdasarkan ketetapan bukan berdasarkan logika serta penerapan ilmu fisika yang menggunakan dalil - dalil agama di indonesia.

" Yang aneh adalah matematika berdasarkan ketetapan bukan logika, selain itu ilmu fisika berdasarkan dali-dalil agama, bagaimana mau mengkaji fenomena jika mengacu kepada agama? siapa yang bisa melawan dalil agama," katanya dengan nada bertanya di kantor KontraS, di Jakarta, (07/04/2013).

Ia juga menilai ada beberapa hal yang aneh seperti penghapusan beberapa mata pelajaran yang dihapuskan pemerintah, padahal pelajaran tersebut berguna untuk memancing kreativitas dan meningkatkan kualitas murid.

"Dalam draft ini tidak jelas mau dibawa kemana karena ada penghapusan beberapa mata pelajaran seperti bahasa inggris untuk SD, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA, padahal mata pelajaran ini sangat berguna untuk tingkatkan kreatifitas dan kualitas murid," tambahnya.(tribunnews.com)


03.28 | Posted in , | Read More »

WEC: SMAN 5 Terpilih Lagi Jadi Duta Pelajar Terpuji

PAMEKASAN--Para pemerhati pendidikan cukup apresiatif terhadap pembangunan dunia pendidikan. Kepedulian aktivis pemerhati  pendidikan yang tergabung dalam WEC (Watch Education Corruption) mengadakan kegiatan yang dikemas dalam Pemilihan Pelajar Terpuji dan Duta Pelajar Terpuji. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Pendapa Ronggosukowati Pamekasan. Dalam kegiatan pemberian penganugerahan terhadap nominator Duta Pelajar Terpuji, dibuka langsung oleh Bupati Pamekasan  KH Kholilurrahman.

Turut hadir dalam acara tersebut, 10 Kasek yang pelajarnya memperoleh Anugerah Duta Pelajar Terpuji. Selain itu juga dihadiri dewan pendidikan, wali murid, ormas NU dan Muhammadiyah. Ketua WEC Fahrus Soleh mengatakan program Duta Pelajar Terpuji dalam rangka membangun konstruk pelajar berakhlakul karimah. Pada kesempatan itu, 10 pelajar berhak memperoleh penghargaan berupa penerimaan piagam dan trofi . Sementara 5 dari 10 nominator penerima penghargaan piala tersebut mendapatkan dana Rp 1 juta utuk juara I, dan keempat nominator lainnya memperoleh uang tabanas Rp 500 ribuan.

"Kasek SMAN 5 Farida merasa bangga dengan perolehan penghargaan Duta Wisata Pelajar tadi. Pasalnya, pelajar SMAN 5 sudah dua kali berturut-turut menyabet penghargaan Duta Wisata Pelajar," ujar Ketua Panitia Pelaksana, Dian Marvin. Kelima pelajar yang terpilih sebagai Duta Pelajar Terpuji, kata Fahrus, yakni Astuti dari SMAN 5, Lailatul Fajriah dari MA Nurus Solah, Palenggaan, Dimas Jaya Subakti dari SMAN 1, Miftahul Qulub dari MA Galis, dan Mila Hendriyani dari SMA 4 (radar)

00.09 | Posted in | Read More »

Kakek dan Ponakan Kompak Setubuhi Siswi Kelas VIII


IndecsOnline-- Kakek dan keponakan kompak melakukan asusila. Sang kakek bernama Andan (64), sementara ponakannya Deri (16). Keduanya menyetubuhi siswi kelas VIII salah satu SMP di Limbangan, Garut. Kini Andan ditahan di Mapolsek Limbangan. Sementara Deri dibina di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Anak Garut.

Sebut saja Wini (15), korbannya. Akibat kasus ini ia enggan sekolah. Padahal sebelum terbongkar, Wini seperti tidak ada masalah. Ia tak tahan dengan gunjingan beberapa temannya yang kebanyakan menyudutkan.

"Saya kan hanya korban. Saya terbuai rayuan gombal si kakek dan keponakannya," kata Wini.

Ceritanya berawal kala Deri pacaran dengan Wini. Setiap ada kesempatan selalu melakukan persetubuhan di rumah Andan yang terletak tak jauh dari sekolah di Ciwangi Limbangan, Garut. Diam-diam sang kakek kerap mengintip jika pasangan muda yang dimabuk asmara itu berada di kamar.

Suatu hari Wini datang sendirian ke rumah. Kesempatan ini dimanfaatkan Andan untuk mendekati. Gayung bersambut. Wini ternyata datang ke rumah untuk curhat. Katanya cintanya diputus sepihak oleh Deri. Mulai Andan pasang perangkap. Dia berpura-pura perhatian. Wini pun menangis dalam pelukan Andan.

Dengan rayuan maut, Andan merayu. Wini terbuai. Hingga ia jatuh dalam pelukannya. Tak hanya disitu, Wini pun dipangku ke kamar. Disana ia disetubuhi. Tak hanya sekali persetubuhan itu dilakukan. Tapi tiap ada kesempatan keduanya melakukan hubungan layaknya suami istri.

Kasusnya terbongkar ketika salah seorang anggota komite sekolah tempat Wini menuntut ilmu, melihat tingkah mencurigakan Andan. Kala itu dia langsung masuk rumah. Si komite cepat mendekat rumah. Di jendela samping dia melihat Wini dan Andan berpelukan. Mulailah kabar dari mulut menyebar. Akhirnya orang tua Wini lapor Polsek Limbangan.

Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, kemarin siang, Andan diamankan polisi. Dari mulut Andan keluar nama Deri.

Menurut Kapolsek Limbangan, Kompol Imron Rosyadi, korban disetubuhi dengan cara dirayu. Dari empat kali persetubuhan semuanya dilakukan di rumah. Deri tak dilakukan penahanan oleh polisi karena beralasan statusnya masih pelajar SMA.

"Tapi dia sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun pengawasannya ada di Bapas anak. Dalam kasus ini keduanya dijerat  Undang – Undang Perlindungan Anak. Ancamannya 15 tahun kurungan penjara," kata Kapolsek.[rmol.co]

18.07 | Posted in , | Read More »

Puluhan Siswa SMK Dilatih Wirausaha

BANDA ACEH - Gerakan Wirausaha Aceh (Gwach), Sabtu (16/3/2013) pagi lalu, membekali puluhan siswa SMK di Banda Aceh, untuk mengikuti pelatihan kewirausahawan bagi siswa (Student Entrepreneurship Training). Kegiatan tersebut berlangsung di Gerai Ayam Lepaas, Lamnyong, Banda Aceh.

Tim Asistensi Gwach, Mujiburrahman menyebutkan pelatihan hasil kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Banda Aceh itu bertujuan menginspirasi siswa-siswi SMK 1, 2, 3 dan SMK 5 Telkom untuk memiliki jiwa bisnis dan kewirausahawan.
"Para siswa-siswi SMK ini memang sudah memiliki skil awal dan itu sering mereka lakukan di sekolahnya masing-masing. Oleh karena itu modal tersebut tentu menjadi pondasi awal untuk kita pertajam apa yang menjadi kemampuan dari setiap siswa-siswi tersebut agar lebih terarah," kata Mujiburrahman.

Ia menyebutkan setelah pelatihan sehari itu Gwach juga akan terus melakukan pendampingan serta menindaklanjuti apa yang didapatkan dalam pelatihan tersebut.

"Gwach menargetkan pada tahun 2025, pengusaha di Aceh bisa mencapai 10 ribu orang," pungkas Mujiburrahman. Hadir dalam pelatihan itu Presiden Gwach, Suparno SW STP yang sempat berbagi pengalaman suksesnya dan kiat-kiat menjadikan jiwa kewirausahawan.(tribunnews.com)

17.56 | Posted in | Read More »

HMI Back To Campus Strategi Jitu Hadapi Dua Tantangan Akut


IndecsOnline--Dalam beberapa tahun ke belakang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dihadapkan oleh dua masalah yang serius. Jika tidak segera diatasi maka masalah ini akan menjangkit HMI di masa mendatang dan mengakibatkan perjuangan HMI stagnan atau jalan ditempat.

Permasalahan pertama itu adalah eksistensi HMI yang terlihat tidak begitu mewarnai dan cenderung tenggelam di kampus-kampus. Sementara permasalahan kedua adalah terjadinya stagnasi atau tidak berjalannya sistem perkaderan HMI dengan baik, karena rekruitmen dan sistem pembinaan pasca Latihan Kader tidak tersistem dan terlaksana dengan baik sehingga jauh dari kesan efektif.

Demikian disampaikan Calon Ketum PB HMI Hendra Ferdiansyah sebagaimana dilansir Rakyat Merdeka Online  beberapa saat lalu (Sabtu, 16/3).

"Kedua permasalahan tersebut semakin menyudutkan HMI di tengah kompetisi dengan organisasi lain dan eksistensi HMI pun diragukan masa depannya," ujarnya.

Di sisi lain, Kongres HMI ke XXVIII di Jakarta telah dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan M. Nuh dan dihadiri oleh para tokoh KAHMI dan ribuan kader HMI se-Indonesia.

Hal ini, lanjutnya, menjadi strategis untuk menjadikan pelaksanaan kongres kali ini sebagai momentum untuk memikirkan secara lebih detail dan melakukan pemetaan tentang sejumlah tantangan HMI untuk keluar dari periode krisis kader.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa visinya, yaitu HMI back to campus, adalah grand strategi jitu dari kedua permasalahan tersebut. Karena program ini diakuinya bersinergi dengan kbutuhan mahasiswa di kampus.

"Dan spirit apa yang bisa disematkan di dalam strategi tersebut? Strategi tersebut adalah Strategi Dakwah HMI di (Masjid) Kampus, yang diilhami dengan spirit dakwah," demikian Hendra. [rmol.co]

09.21 | Posted in , | Read More »

Tawuran, 6 Pelajar Ditahan

BEKASI-- Petugas Kepolisian Sektor Bekasi Timur, Rabu (13/3/2013) masih menahan enam siswa dari belasan siswa SLTA yang terlibat tawuran. Petugas juga menyita celurit dan gir atau senjata siswa untuk tawuran. Akibat tawuran itu, dua siswa terluka.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Bekasi Timur, Inspektur Satu Hary Gasgari, mengatakan, enam siswa yang ditahan bersekolah di SMK Negeri 1 Cikarang dan SMK Cibitung, Kabupaten Bekasi. Enam siswa itu berinisial MI, F, DH, WTA, RSI, dan BP.

Petugas berhasil menangkap keenam siswa itu tidak lama setelah tawuran terjadi. Tawuran terjadi di Jalan Juanda, Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (11/3/2013), sekitar pukul 16.30 WIB.
Berdasarkan keterangan para saksi dan tersangka, tawuran terjadi cuma akibat saling ledek antarsiswa SLTA.

Sebelum pecah tawuran, sekelompok siswa SMK Bina Karya sedang nongkrong di Jalan Juanda. Ketika itu, melintaslah sekelompok siswa SMK Negeri 1 Cikarang dan SMK Cibitung. Kedua kelompok siswa itu kemudian saling ejek dan berujung tawuran.

Akibat tawuran itu, dua siswa SMK Bina Karya terluka bacok. Korban ialah Regi Ahmad Fauzi (16) dan Ahmad Nurkholik (17). Regi terluka di tangan, telapak tangan kiri, dan pantat. Ahmad terluka di punggung kanan. Keduanya sempat dirawat di RS Bella, dekat dengan lokasi tawuran.

19.28 | Posted in | Read More »

Ancam Nilai & Ijazah, Guru SMA Negeri Cabuli Siswi

HeadlineJAKARTA-- Wakil Kepala SMA Negeri 22 Jakarta Timur di bidang kesiswaan, Taufan diduga mencabuli siswinya berinisial MA (17) dengan mengancam tidak akan memberikan nilai serta ijazah jika tidak menuruti keinginannya.

Hal ini diakui korban yang menuturkan telah berulangkali melakukan pencabulan terhadap dirinya dengan ancaman-ancaman tersebut. "Dia mengancam untuk tidak mengeluarkan nilai dan ijazah saya. Jujur, saya takut," katanya, Jumat (1/3/2013).

Menurutnya peristiwa itu terjadi sejak Juni 2012 silam saat pihak sekolah selesai mengadakan studi tur di Bali. Parahnya lagi, pelaku yang juga selaku guru biologi itu kerap memaksa korban untuk melakukan oral seks sebanyak empat kali di waktu yang berbeda.

"Pernah dipaksa ikut ke mobilnya Toyota Avanza dan dipaksa melakukan oral seks. Pernah juga dipaksa ikut ke rumahnya, saya disuruh masuk ke bagasi supaya tetangganya enggak lihat," tukas MA.

Setiap diajak oleh pelaku, MA mengaku selalu dipaksa melakukan oral seks untuk memuaskan hasrat birahinya. Setelah itu, dirinya diantar pulang hanya setengah jalan dan diberi uang sebesar Rp50 ribu untuk ongkos taksi sampai ke rumah korban.

Sekian lama waktu berjalan, akhirnya korban memberanikan diri menceritakan semuanya ke pihak sekolah, namun pihak sekolah meminta untuk menutup kasus terlebih dulu sampai ujian selesai. "Kepala Sekolah dan Wali Kelas memojokkan saya. Mereka minta tutup kasus dulu sampai selesai ujian, kalau begini saya jadi takut terus di sekolah," tambahnya (inilah.com)

20.22 | Posted in , | Read More »

Naik Motor, Siswa SMP Jambret "Handphone"


Naik Motor, Siswa SMP Jambret "Handphone"JAKARTA--Dua orang siswi SMP Dewi Sartika bernama Dwi (16) dan Tania (16) menjadi korban penjambretan di tepi Jalan Ottista, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (27/2/2013). Setelah ditangkap, dua orang pelaku dengan inisial AT (16) dan TR (16), rupanya juga masih berstatus sebagai pelajar.

Dwi menuturkan, semula ia dan kawannya baru pulang pendalaman materi di sekolahnya yang terletak di Kebon Nanas dan hendak menuju tempat lesnya di daerah Cipinang Cempedak menggunakan sepeda motor. Sesampainya di pertigaan Cawang, pelaku yang menggunakan sepeda motor tiba-tiba merampas ponsel merek Cross yang dipegang Dwi dengan cepat.

"Saya kaget mereka (pelaku) langsung kabur ke Dewi Sartika ngambil hape saya. Saya langsung ngejar naik motor juga," ujarnya saat melapor ke Kepolisian Sektor Jatinegara, Rabu siang.

Aksi kejar-kejaran pun terjadi di sepanjang Jalan Ottista hingga Jalan Dewi Sartika. Pelaku sempat hampir tertangkap di bawah kolong jembatan Cawang lantaran motor korban menyenggol motor pelaku. Namun nahas, motor yang dikendarai  mereka malah terjatuh hingga keduanya terluka.

Hampir kehilangan pelaku, Dwi dan Tania langsung berteriak meminta pertolongan warga. Beberapa orang pengendara motor pun mengejar pelaku hingga akhirnya tertangkap di Jalan Dewi Sartika, tepatnya 100 meter dari pertigaan Jambul, Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Akhirnya ketemu sama pelakunya. Dibalikin handphone saya. Saya berobat ke klinik buat nyembuhin luka saya," ujart Dwi.

AT yang masih mengenakan seragam sekolah dan TR yang mengenakan seragam Pramuka itu tampak tak bisa berbuat banyak saat warga menangkapnya dan mempertemukan dengan korbannya. Sambil terus minta ampun, keduanya pun digelandang ke sekolahnya untuk dididik.

Orangtua Dwi diketahui melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Jatinegara untuk segera ditindaklanjuti. Adapun, kedua pelaku diketahui masih berada di sekolahnya bertemu dengan guru.(kompas.com)

23.33 | Posted in | Read More »

Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Teks


JAKARTA--Pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 dalam impelementasinya menggunakan pendekatan berbasis teks.

Dengan berbasis teks, siswa menggunakan bahasa tidak saja hanya dijadikan sebagai sarana komunikasi, tetapi sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, Mahsun, di Jakarta, Selasa (26/2/2013), menjelaskan pada KTSP basisnya tidak pada teks, padahal pikiran yang lengkap, yang disampaikan orang dalam bahasa itu hanya dalam bentuk teks.  

Mahsun menjelaskan, teks tidak diartikan sebagai bentuk bahasa tulis seperti teks Pancasila, yang sering dibacakan pada saat upacara. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan.

"Teks itu adalah ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya ada situasi dan konteksnya," katanya.  Teks, lanjut Mahsun, dibentuk oleh konteks situasi penggunaan bahasa yang di dalamnya ada register atau ragam bahasa yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut.

"Register itu meliputi apa pesan yang akan disampaikan, kepada siapa pesan itu disampaikan, dan dalam format bahasa seperti apa pesan itu dikemas," kata Guru Besar Linguistik Universitas Mataram itu.

Semua pelajaran bahasa Indonesia mulai jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan sekolah menengah atas (SMA) berbasis teks. Di jenjang SD sebanyak 30 jenis, SMP 45 jenis, dan SMA 60 jenis.
"Ketika (siswa) sudah selesai mengetahui bagaimana susunan teks itu maka selesailah (pelajaran) bahasa Indonesia. Jadi setiap kompetensi dasar ada indikator penilaiannya," katanya.

"Di kelas IV SD, siswa sudah mulai belajar cerpen. Bahasa sastra sebagai bahan pembelajaran ini akan membuat mata pelajaran menarik," kata Mahsun.(kompas.com)

07.35 | Posted in | Read More »

Siswa SMA 3 Pamekasan, Demo Kepala Sekolahnya


PAMEKASAN-- Ratusan siswa SMA 3 Pamekasan gelar aksi unjuk rasa tuntut kepala sekolahnya Tin Farihah untuk mundur dari jabatannya.

Tuntutan mundur tersebut karena sisiwa menganggap Tin Farihah tidak layak menjadi kepala sekolah karena telah menyalah gunakan jabatannya serta tidak terbukanya penggunaan keuangan sekolah tersebut.

Aksi itu digelar dihalam sekolah pada pukul 07.30 dengan membentangkan poster dan spanduk bertuliskan kecaman terhadap kepala sekolahnya.


"Kami meminta ibu Tin Farihah untuk mundur," ujar salah satu peserta aksi yang meminta agar namanya tidak disebutkan kepada sejumlah wartawan.

Sementara itu kepala sekolah SMA 3 tersebut Tin Farihah kepada sejumlah wartawan menuturkan, siswa yang melakukan aksi itu karena info yang didapatkan hanya sepihak, dia juga menuturkan tuduhan penyalah gunaan jabatan tidak benar sebab menurutnya itu hanya kesalahan administrasi.

"Hanya kesalahan administrasi saja," tuturnya.

Saat ditanya terkait jabatannya, Tin Farihah mengatakan sebagai Pengawai Negeri Sipil (PNS) dia menunggu keputusan Bupati sebagai atasannya.

"Saya kan PNS, saya punya atasan jadi saya akan mengikuti keputusan pimpinan," ungkapnya.(mediamadura.com)

04.32 | Posted in | Read More »

Kasus Kekerasan Seksual Anak Masuk Darurat Nasional


JAKARTA--Kasus kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data yang dimiliki Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menunjukkan, peningkatan tersebut bisa berlanjut pada tahun ini.
"Untuk tahun ini saja sampai tanggal 23 Februari kami sudah menerima 80 laporan kasus. Ini sudah seharusnya masuk kategori darurat nasional," tandas Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas PA saat dihubungi Kompas.com, Minggu (24/2/2013).
Ia menandaskan, dari data tersebut perhatian lebih serius perlu diberikan kepada masalah kekerasan seksual yang dialami anak-anak. Pasalnya, dalam sehari Komnas PA rata-rata menerima lebih dari dua laporan kasus tersebut. Padahal, laporan yang masuk ke Komnas PA tercatat baru mencakup kawasan Jabodetabek.
"Kasus kekerasan seksual yang menimpa anak sudah sangat memprihatinkan karena menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Kalau tidak ada tindakan tegas, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus berkembang," urai Arist.
Kekhawatiran Komnas PA bukan tanpa alasan. Kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak tergolong kasus yang sulit terungkap. Bila data yang masuk ke Komnas PA untuk kawasan Jabodetabek saja sudah sangat tinggi, diyakini jumlah kasus sebenarnya berkali lipat lebih tinggi.
"Harus diingat kasus seperti ini sangat sulit diungkap oleh korban dan sulit dibuktikan. Ini seperti fenomena gunung es. Jika ada ribuan kasus yang kami terima, maka bisa dipastikan jumlah kasus sebenarnya jauh lebih besar dari jumlah itu," terang Arist.
Sepanjang tahun 2012, Komnas PA telah menerima 2.637 laporan kasus kekerasan terhadap anak. 62 persen di dalamnya atau 1.700 laporan adalah kasus kekerasan seksual berupa sodomi, perkosaan, pencabulan, dan incest.
Tahun sebelumnya, 2011, dari 2.508 laporan yang masuk, 1.075 di anataranya adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pada 2010, 48 persen dari 2400 kasus yang ditangani Komnas PA adalah laporan terkait anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual.
"Data tersebut sudah sangat mengawatirkan, sudah harus masuk kategori darurat nasional. Karena itu aparat penegak hukum harus memberikan sanksi yang lebih tegas dalam kasus anak-anak menjadi obyek kekerasan seksual," pungkas Arist.
Kasus terakhir yang diterima Komnas PA terkait seorang bocah berusia lima tahun yang diduga menjadi korban sodomi dua pria dewasa. Bocah F yang berdiam di Cibubur, Jakarta Timur, itu diduga tidak hanya disodomi tetapi juga ancaman senjata tajam dari E, anggota Polri dan I, keduanya bermukim tak jauh dari rumah keluarga korban.
Mengingat kasus ini melibatkan aparat penegak hukum, orangtua korban dan Komnas PA berharap penyidik tidak membuat kasus ini menguap. Dugaan tersebut muncul sejak keluarnya hasil visum dari RS Polri Kramat Jati pada Kamis (22/2/2013), yang menyatakan tidak ada tanda-tanda kekerasan seksual pada tubuh korban.
Sementara itu, hasil visum sehari kemudian yang dikeluarkan RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan dubur korban mengalami lecet dan terdapat luka sayatan pada punggung kiri bawah. (kompas.com)

16.32 | Posted in | Read More »