Kemajuan Teknologi dan Moralitas

IndecsOnline-- Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

Sebulan terakhir ini, marak pemberitaan prostitusi online yang dilakukan seorang mahasiswa di Bogor. Sebelum pemberitaan di Bogor, pemberitaan serupa juga terjadi di Bandung. Teknologi internet seakan-akan menjadi wadah untuk menyebarkan kemaksiatan.
Sungguh mengkhawatirkan di tengah-tengah perkembangan globalisasi saat ini. Terlebih dalam beberapa tahun ke depan, kita telah akan memasuki zona bebas ASEAN pada akhir 2015 nanti.
Kemudahan-kemudahan yang diberikan teknologi kepada kita juga harus kita sadari dampak negatifnya, selain dampak postifnya juga. Dampak positif yang diberikan oleh jejaring sosial adalah kita bisa saling mengenal banyak teman yang berada jauh dari satu kota, luar kota, bahkan luar Negara. Jaringan yang luas memberikan kesempatan untuk kita memiliki banyak teman dari berbagai dunia.
Selain itu dengan adanya jejaring sosial memberikan kita kecepatan penerimaan informasi dengan cepat, akurat, dan terpercaya. Hal ini dikarenakan disitus jejaring sosial banyak sekali orang mengupdate statusnya dengan kondisi yang sedang dia rasakan saat itu. Ketidak terbatasan informasi ini memang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang menggunakannya dan haus akan informasi, dan tidak jarang banyak orang yang kecanduan dengan teknologi informasi yang satu ini.
Perkembangan teknologi juga berdampak negatif. Teknologi juga tidak sedikit yang memiliki muatan yang tidak ramah, khususnya bagi anak-anak. Contohnya Konten bermuatan pornografi yang marak dan hanya menguntungkan salah satu pihak, tanpa memperhatikan dampak sosial yang lain.Pelanggaran-pelanggaran juga sering terjadi dalam dunia teknologi, mulai dari pelanggaran hak cipta, pencemaran nama baik, cyberstalking hingga prostitusi online.
Pertanyaannya, mengapa saat ini yang kerap muncul dampak negatif dari perkembangan teknologi itu. Jawabannya karena banyak orang memandang tidak ada hubungannya antara perkembangan teknologi dengan ajaran Islam.
Terkadang umat Islam saat ini memisahkan antara perkembangan teknologi dengan ajaran Islam. Jika demikian, maka salah besar itu. Islam juga berperan besar dalam kemajuannya, pengembangannya, sampai pada pengawasannya.Salah besar jika kita meganggap teknologi bukan bagian dari Islam ataupun Islam tidak membahas mengenai teknologi.
Islam telah mengajarkan banyak hal dalam kehidupan ini. Tidak hanya ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadist, tafsir dan lain sebagainya tetapi mencakup segala ilmu yang ada, mulai dari bakteri terkecil sampai pergerakan alam semesta melalui ilmu astronominya.
Banyak para ahli keilmuan Islam atau pun teori-teori keilmuan Islam yang menjadi dasar atau panduan bagi para ilmuan Eropa.Allah SWT berfirman dalam Al-qur'an surat Ar-Rahman: 33: "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi)penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan."
Nash di atas merupakan bukti bahwa islam juga merupakan pedoman utama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di zaman sekarang ini banyak orang-orang yang terlalu sibuk dengan urusan duniawinya sehingga mereka melupakan hubungannya dengan sang yang maha pencipta yaitu Allah SWT. Hal itu berdampak pada teknologi saat ini tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman yang dulu dilahirkan para ilmuan kita.
Bahkan sudah banyak kita lihat teknologi yang disalahgunakan manfaatnya dimana-mana. Inilah masalah dunia teknologi. Dimana dengan adanya teknologi justru melahirkan ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan sang pencipta.
Hal ini terjadi saat teknologi telah keluar dari fungsi dan manfaat sebenarnya. Hal ini terjadi saat moral-moral para pembuat ataupun pengguna telah mengalami kemerosotan Iman dan takwa mereka.
Sudah saatnyalah kita mengembalikan teknologi pada jalur yang sebenarnya. Jalur dimana Islam secara menyeluruh ataupun nilai-nilainya tertanam kuat dalam dunia teknologi
Bukanlah tidak mungkin untuk menerapkan sebuah konsep Islam dalam dunia teknologi bukan hanya sebagai pengerem kerusakan yang lebih banyak ditimbulkannya, tetapi juga demi terwujudnya kebangkitan umat Islam. Jika kita selalu beretika dalam berteknologi, memanfaatkan kemajuan teknologi, secara baik dan benar maka semuanya akan dapat berjalan secara selaras dan seimbang. (Republika.co.id)
redaksi












08.17 | Posted in , | Read More »

HIKMAH : SEGELAS SUSU

IndecsOnline-- Ada seorang anak lelaki miskin yang kelaparan dan tak punya uang. Dia nekad mengetuk pintu sebuah rumah untuk minta makanan. Namun keberaniannya lenyap saat pintu dibuka oleh seorg gadis muda. Dia urung minta makanan, dan hanya minta segelas air.

Tapi sang gadis tahu, anak ini pasti lapar. Maka, ia membawakan segelas besar susu.

"Berapa harga segelas susu ini?" tanya anak lelaki itu. "Ibu mengajarkan kepada saya, jangan minta bayaran atas perbuatan baik kami," jawab si gadis.

"Aku berterima kasih dari hati yang paling dalam… " balas anak lelaki itu setelah menenggak habis susu tsb. Belasan tahun berlalu…

Gadis itu tumbuh menjadi wanita dewasa, tapi didiagnosa punya sakit kronis.

Dokter di kota kecilnya angkat tangan.

Gadis malang itu pun dibawa ke kota besar, di mana terdapat dokter spesialis.

Dokter Howard Kelly dipanggil untuk memeriksa.
Saat mendengar nama kota asal wanita itu, terbersit pancaran aneh di mata sang dokter.

Bergegas ia turun dari kantornya menuju kamar wanita tsb. Dia langsung mengenali wanita itu.

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya wanita itu berhasil disembuhkan. Wanita itu pun menerima amplop tagihan Rumah Sakit. Wajahnya pucat ketakutan, karena dia tak akan mampu bayar, meski dicicil seumur hidup sekalipun.

Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu, dan menemukan catatan di pojok atas tagihan…

"Telah dibayar lunas dengan segelas susu …" Tertanda, dr. Howard Kelly.

(dr. Howard Kelly adalah anak kelaparan yang pernah ditolong wanita tersebut.)

Cerita disadur dr buku pengalaman dr. Howard dalam perjalanannya melalui Northern Pennsylvania, AS)

Begitulah …

Jangan ragu untuk berbuat baik dan jangan mengharap balasan. Pada akhirnya, buah perbuatan akan selalu mengikuti kita.

Selamat Beraktifitas.............!
redaksi

18.54 | Posted in | Read More »

Anas Tijitibeh

Jakarta - SBY ambil kendali Partai Demokrat. Mengetati aturan dan ancam pecat yang tidak sepaham. Anas disuruh fokus kasus Hambalang. Benarkah ini solusi mengatasi problem internal partai, atau puncak kejengkelan SBY yang selalu gagal menjerat Anas? Bagaimana pula Anas menyikapi ini?

Anas kembali dihajar. Ini bukan kali pertama. Jika faksi Anas yang kini semakin kuat melakukan perlawanan, Partai Demokrat tidak sekadar kalah dalam pemilu mendatang, tetapi bubar. Azas tijitibeh jadi nyata. Mati siji mati kabeh mengancam partai ini. Harakiri?

Partai Demokrat tak kunjung tenang. Partai ini terus gonjang-ganjing. Faksi yang ada saling mencari salah. Dan itu yang mengusik partai ini tetap berseteru. Tidak perduli di tahun penting mendekati pemilu, dimana setiap partai sedang merekadaya untuk padu.

Pangkal ribut ini kali soal hasil sigi rendahnya tingkat elektabilitas Partai Demokrat. Kemerosotan itu sebenarnya aksiomatif. Partai bermasalah pasti akan ngunduh wohing pakarti. Memanen yang ditanam. Mengalami penurunan tajam.

Sayangnya, penurunan itu bukan tunggal penyebabnya, tetapi multi. Kader banyak terlilit korupsi, SBY yang mendekati akhir jabatan, dan tentu, 'manajemen konflik' yang tetap diuri-uri dalam partai ini adalah masalah yang memperpuruk performa Partai Demokrat. Ini penyebab kenapa elektabilitas Partai Demokrat jeblok.

Terlalu naif rasanya kalau itu dikatakan karena pengurus partai ini belum paham politik. Atau ada partai lain yang menskenario agar partai ini terpuruk. Dengan begitu, jika kisruh yang laten itu akibat gawe dalang, maka dalang itu tentu tidak jauh dari tiga faksi yang 'terbaca' saat Kongres Bandung.

Dalam Kongres itu terdapat tiga faksi besar. Pertama kelompok Marzuki Alie. Ini punya 'pasukan inti', bergerilya mendegradasi Anas Urbaningrum pasca kalah. Kendati powernya mengecil tergerogoti manuver Anas, tetapi itu tetap berperanan besar dalam menjaga perseteruan internal partai, agar rebut itu tidak kunjung padam.

Kedua adalah kelompok Andi Mallarangeng. Kendati secara personal Andi telah keluar karena terkena masalah, tapi itu tidak serta-merta melemahkan kelompok ini. Ketua Dewan Pembina disebut-sebut ikut mandegani. Itu yang membuat partai acap gonjang-ganjing dengan sikap ambivalensi, seperti yang terlihat dalam sikap SBY 'ambil-alih' kali ini. Sedang kekuatan ketiga adalah kelompok Anas Urbaningrum.

Dalam pandangan publik, Anas adalak sosok yang lama dikuyo-kuyo karena 'tidak diharapkan' kehadirannya. Dalam proses waktu, Anas dihadapkan pada dua pilihan, mundur atau melawan. Jika mundur, usia muda dan kariernya di politik wassalam. Sedang jika melawan, head to head dia akan berhadapan langsung dengan SBY.

Kalkulasi itu yang memaksa Anas tampil sebagai negator. Melawan. Menang cacak kalah cacak. Barisan darimana asal-muasalnya datang dikoordinasikan. Dan 'HMI Conection' itu kini berdiri di belakang Anas, tumbuh rimbun di hampir semua cabang, selain loyalis yang sudah teruji zaman.

'Barisan anak muda' itu yang kini sedang menggalang kekuatan. Itu dikuati 'kelompok hijau' yang tidak seberapa 'diopeni' SBY, dan kubu abu-abu yang merasa 'sakit hati'. Dengan begitu, melihat Anas di tahun 2012 amat kontras dengan posisinya di tahun 2013. Anas kini kuat, percaya diri, dan siap atau tidak siap
akan siap jika dipaksa untuk diajak bertarung. Akankah Partai Demokrat akan jadi Padang Kurusetra oleh Dewan Pembina melawan tunas-tunasnya?

Perang tersamar memang sudah lama terjadi. Itu ditaksir semakin dadrah di tubuh partai ini, karena yang pro atau kontra SBY dan Anas ikut terlibat di dalamnya. Namun yang menjadi pertanyaan, beranikah itu dilakukan terbuka agar terang benderang siapa yang kalah dan siapa yang menang. Jika yang tua menang okelah. Tapi bagaimana jika kalah. Ditaruh mana wajah mereka?

Ada faksi yang kalah atau menang hakekatnya Partai Demokrat kalah. Taruhannya memang hanya satu, Partai Demokrat hancur. Partai pemerintah yang superior ini akan berubah menjadi debu, terbang kemana-mana tanpa ada yang menggubris. Akankah demi ambisi pribadi-pribadi partai ini harus dikorbankan?

Rasanya, perang bubat yang sudah terbuka itu perlu dihitung ulang jika mungkin. Akurlah menjelang pemilu. Atau jika tidak, peranglah sebenar-benar perang agar cepat bubar. Rakyat bosan melihat partai yang dulu enak dipandang dan merdu didengar itu sekarang kok jadi ikut hobi berantem.

Sumber:
(Detik.com)
Kolom Djoko Suud
Oleh: Djoko Suud Sukahar

redaksi












21.46 | Posted in , | Read More »

Puisi-puisi Putu Gede Pradipta

Puisi

Aku mengembara dari pertanyaan ke pertanyaan yang kucipta sendiri.
(2012)

Burung Api Puisi
Tak kau temukan
dalam jantung sendiri.
Tak kau jumpai lagi di
semesta rindumu. Puisi
menjelma burung api.
Ia terbang menjauhi.
(2012)

Luka Kata
Kau menjadi luka. Dan begitu
bahagia atas pilihanmu.
Sebab dari matamu terpancar
cahaya terang. Kian purnama.
Luka yang tak biasa. Yang tak
menyala darah. Luka kata!
(2012)
Lukisan Cat Air Sepasang Kekasih
Dan semenjak dilukiskan. Cinta kita
jadi tidak berdaya di hadapan warna.
(2012)

Bertemu dalam Ragu
Dan malam ini kudekati kamu
Pemilik remang cahaya tubuh
Mata pejam melihat ke dalam
Lewat doa sampaikan pendam
Kamu yang debar dalam ragu
Kerap terlupa sejenak waktu
Meski selalu dilingkup keraguan
Doaku terus saja menuju kamu
Tuhan. Dalam senjang ragu ini
Berkenan sebentar kita bertemu
Aku yang berada di tubuhku ini
Rindukan kamu saat kita bersatu
Sebelum akhirnya kita berpisah
Saling mengenangkan masa lalu
(2012)

Putu Gede Pradipta lahir 18 Desember. Adalah mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dwijendra. Tergabung dalam kelompok menulis.(kompas.com)

14.55 | Posted in | Read More »

Tasbih Rindu 1

Duhai.. alangkah gelisah,
Seberkas cahaya yang pernah menyinariku
Yang dahulu telah menghilang bersama kembara angin malam,
Kini kembali membayang

Aku sendiri telah menyerahkan seluruh jiwaku,
Pada dentuman nasib tak berhulu

Aku yang selalu yakin, bahwa hidup itu misteri
Kini menyata, menjadi api, menjadi rindu, menjadi gelisah,


dalam tata hidupku,

Malam ini, bulan temaram diatara tanya dan hayalku
Tentang rindu yang bisu
Tentang, altar yang telah sekuat hati kubangun, setelah angin malam mencuri doa ku waktu itu,

Kini, Bulan itu datang, membawa kisah yang belum selesai
Membawa rindu
Membawa gelisah....... Mengusik jiwaku yang telah lama terlelap diujung malam,...

....... Tuhan, mohon tuntunlah hamba, menuju takdir yang engkau ridhoi... Amien
oleh: AzisMaulana

00.12 | Posted in | Read More »

Tentang Perempuan yang Mencintai Lelakinya


Cerpen Handoko F Zainsam
Catcher:
Tiga untai bunga kamboja jatuh menyentuh tiga bagian tubuh nyonya muda yang terkulai  di tepian pusara lelakinya yang masih basah. Serentet kata lirih keluar dari mulutnya yang nyaris tak bergerak, “Aku hanya ingin... mengabadikan cintaku... dengan caraku sendiri. Sung... guh... ha.. nya... i... tu...” ***
Kriingg! Kriiinnggg…!
Dering telepon itu cukup mengejutkannya. Setelah sekian jam dia tak bisa memejamkan mata, dan hanya membolak-balikkan badan dengan hati yang diliputi kegelisahan, dering itu cukup membuat jantungnya berpacu lebih cepat lagi. Gemetar dia meraih telepon genggam yang tergeletak di meja di sisi ranjang.
Suara di seberang itu masih sangat diingatnya, laki-laki yang tak pernah dia temui.  Suaranya begitu berat dan dingin.
“Saya hanya butuh foto dan info di mana biasanya ia berada. Sisanya urusan saya,” suara berat lelaki itu cukup membuatnya merinding.
“I… iya. Besok Anda bisa ambil fotonya. Saya akan taruh di bawah tong sampah di kantor pos Fatmawati jam lima pagi. Di baliknya, saya akan tulis nama dan alamat kantornya,” suara Sophie terpatah-patah.
“Oke!”
“Ee, soal harga?” Sophie memberanikan diri.
“Untuk harga seorang yang mungkin sangat Anda sayangi. Itu sudah teramat murah, Nyonya…”
“Tapi.... Nggak bisa di…”
“Nyonya, Nyonya… Jika Anda merasa nggak nyaman dengan transaksi ini, gampang kok. Anda cukup tutup telepon dan anggap pembicaraan yang mengasyikkan ini tidak pernah ada. Gampang kan?”
“Ee.. bukan. Jangan begitulah, Tuan...”
“Nyonya, jaman sekarang ini, nggak ada yang susah. Anda tinggal angkat telepon, masukkan kode, dan transaksi selesai. Teknologi modern sangat memudahkan kita untuk melakukan ini semua kok. Anda pasti mengerti maksud saya.”
“I… iya. Saya mengerti,” ucap Sophie kelu.
“Jangan lupa, Nyonya. Empat puluh lima persen saja dulu. Anggap saja itu diskon dari saya. Sisanya akan anda lunasi saat anda mendengar berita kelanjutannya. Mudah bukan?”
“Iya. Saya mengerti.”
“Bagus! Sekarang Anda tinggal tunggu tiga hari ke depan. Selamat berlibur, Nyonya. Nikmati hari-hari Anda dengan nyaman dan damai. Doa saya selalu menemani Anda. Salam.”
“Tut… tut… tut…
***
Keputusannya untuk menghubungi lelaki yang tak pernah ia kenal itu telah dipikir hampir enam bulan. Keputusan yang entah darimana datangnya selain atas nama cinta.
Cinta?
Dia merasakan kuduknya merinding. Pelukan hangat yang kerap dia peroleh di tiap malam. Bisikan cinta yang kerap dia dengar setiap jam. Lumatan yang tak pernah abai, serta… ketakutan yang pernah selesai.
Dia mendegut ludahnya.
***
Pukul 20.05 WIB, Sophie dan lelaki yang sangat ia cintai itu telah sampai di tepian pantai Ancol. Terlihat banyak pasangan muda-mudi berpelukan mesra. Canda tawa sesekali terlihat lepas. Di temaramnya suasana, terlihat pula sepasang muda-mudi lain yang juga lagi asyik berciuman. Mereka sepertinya lupa bahwa banyak mata yang memandang. Bahkan ada yang lebih dahsyat dari itu semua.
“Kamu kedinginan, Sayang?”
Sophie menggeleng.
“Lelah? Kita istirahat di kafe itu dulu, yuk?”
Sophie mengangguk. Merasakan kehangatan dan ketulusan yang rasanya tak pernah habis dari sosok di sebelahnya ini.
Mereka memilih meja yang bersisian langsung dengan pantai. Tangan lelaki itu tak lepas dari bahunya. Mengelusnya lembut dan kecupan-kecupan kecil acap mendarat di kening dan rambut Sophie.
“Kamu mau makan apa, Sayang?”
Baru saja Sophie akan membuka mulutnya ketika lelaki itu mengeluarkan telepon genggam dari sau celananya dan menjawab sebuah panggilan masuk.
“Ohh ya, Ana. Ya, ya, coba dicek lagi ya… Kamu tau kan, tenggatnya sudah dekat. Ya…, ya. Nanti hubungi saya lagi ya. “
“Siapa?” tanyanya begitu lelaki itu menutup teleponnya.
“Bagian admin di kantor. Sedang lembur rupanya dia.”
Sophie menarik napas dalam-dalam.
“Ayo, kamu mau makan apa? Hmm, setelah ini kita harus menciptakan malam yang hangat sampai pagi, sebelum aku berangkat ke Surabaya besok. Okey, Sayang”
Rasa itu muncul lagi. Ketakutan yang amat sangat yang mendera. Dia mencoba tersenyum. Sebuah senyum penuh makna cinta terlepas bagai busur panah Cupit. Sophie terus saja memandang lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang tak pernah menyakiti hatinya. Lelaki yang selalu mengalah untuk melayani setiap keinginannya.
***
Romantisme, kasih sayang, cinta, kerinduan, semuanya bercampur, mendesak dan memenuhi hatinya, bersamaan dengan perasaan lain yang semakin lama mencengkeram imajinasinya.
“Aku terlalu mencintainya. Dan aku tau dia juga begitu mencintaiku. Tetapi apakah aku dan dia tau, jika suatu kali nanti sesuatu yang tak diinginkan terjadi?” Sophie menggigit bibirnya. “Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi. Dan aku tak ingin ada yang terjadi antara aku dan dia. Aku teramat mencintainya.”
Semua bergelung dan membuatnya semakin limbung.
“Maafkan aku, Sayang!”
***
Hari ini, tiga hari pasca transaksi itu terjadi, masih tak ada kabar yang berarti bagi Sophie. Ia masih tergeletak di ranjang tidurnya. Sebuah buku berjudul Sejarah Tuhan tulisan Karen Armstrong masih tergeletak. Keayuan wajahnya tersirat begitu alami. Tanpa ada make up yang terpoles. Sungguh, wanita ayu penuh pesona. Piyama tidurnya sedikit tersingkap. Sebentuk tubuh penuh lekuk terlihat nyata. Mencipta oase di padang tandus. Menyihir mata tiap lelaki yang memandangnya.
Mata Sophie beralih ke telepon genggam di sampingnya. Ada tanda sebuah pesan masuk.
Pagi, Sayang…
Aku akan terlambat pulang karena masih ada rapat yang harus diselesaikan hari ini juga.  Selalu cinta. Muah.
sender:
+6281677…
Send:
10.04.30
17-8-2006
Dia tersenyum. Lelaki itu, suaminya, tak pernah lalai akan romantisme. Tetapi sebentar kemudian senyumnya hilang. Imajinya mendadak liar. Hanya untuknya kah romantisme itu? Bagaimana jika... Jika... Sophie menggeleng. Mengusir gambar-gambar yang mendadak mengelilingi kepalanya. Tawa suaminya, hangat peluknya, lumatannya, gairahnya… ah, bagaimana dengan gambar-gambar perempuan di sekeliling laki-laki itu?
“Aku tak bisa hidup tanpamu, Sayang,” suara laki-laki itu terngiang. Kalimat yang selalu dibisikan di malam-malam mereka.
Sungguhnya kalimat itu hanya untuknya?
“Mbaaaaaak!” Sophie menghalau pikiran itu dengan teriakannya memanggil pembantunya.
“Iyaaa, Buuu!”
“Tolong sediakan air hangat ya, Mbak!”
“Baik, Bu...”
Di kamar mandi Sophie mengguyur badannya berlama-lama. Namun bayangan kegalauan itu tak juga sirna. Air hangat terus menelusuri setiap lekuk tubuhnya, menjamah tiap bagian-bagian yang ada penuh pesona. Rambut panjangnya yang sebahu, lehernya yang jenjang, dadanya yang menantang, pinggulnya yang ramping, dan air merayapi seluruhnya.
***
Sophie kembali melanjutnya buku yang tinggal menyesaikan bagian terakhirnya. Suasana hening membuat Sophie semakin larut. Sophie semakin gelisah.
Cinta. Cinta. Cinta. Ini teramat menyakitkan!
Dia menggeleng.
Wajah suaminya berkelebat memenuhi benaknya. Membuat apa yang dibacanya tak bisa ia cerna.
“Cinta adalah menjaga dan meniadakan.”
Kalimat yang lahir dari pikirannya itu terus menghantuinya. Menciptakan ketakutan-ketakutan baru.
Ia gundah. Mungkin karena ini merupakan hari ketiga pasca perjanjiannya dengan lelaki yang telah ia sewa. Hari terakhir dan kepastian dengan lelaki yang sangat dingin. Lelaki yang sepertinya tak ada sentuhan cinta dalam hatinya. Lelaki yang tidak bakal mau ia kenal dan temui lagi setelah transaksi kali ini.
Kembali Sophie melihat ke arah telepon genggamnya. Dia menghela napas dalam-dalam. Ia berharap, lelaki yang amat dingin itu gagal menjalankan tugasnya. Ah! Setelah sesaat termenung, ia letakkan buku di samping kirinya. Ia raih telepon genggam dan segera menyambungkan ke nomor lelaki yang sangat ia cintai untuk memastikan keberadaannya. Namun sebuah pesan masuk membuatnya membatalkan sambungan itu. Sebuah nomor yang tak ia kenal.
Salam damai.
Saya harap sore ini, nyonya sudah bisa memeluknya untuk yang terakhir kali.
Salam.
sender:
+62818994…
Send:
10.34.30
17-8-2006

Zhiingg!
Seketika Sophie tergugu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya napasnya saja yang semakin cepat. Jantung berdetak lebih kencang. Tak terasa, butiran bening meleleh dari kelopak matanya. Tak ada suara. Wajahnya terlihat kosong. Ia lemparkan telepon genggam di tangannya. Ia jatuhkan tubuhnya dihamparan empuk ranjang tidurnya. Ia tutup wajahnya dengan bantal. Ia peluk guling erat-erat. Entah, apa yang ia rasakan setelah membaca small message service itu. Mungkin senang, sedih, atau bahkan bangga. Entah!
Kosong….
 Hening….
***
Dunia berputar mencipta waktu. Merah, kuning, biru, hijau semua menjadi satu. Menjadi kilau terang cahaya. Angin lembut berhempus. Sore itu lelap. Di pemakaman lelaki yang sangat ia cintai, Sophie masih bersimpuh. Ia peluk gundukan tanah basah makam. Lirih ia bersenandung, “Sayang, cinta adalah menjaga dan meniadakan. Aku menjagamu dari segala hal yang akan merebutmu dariku. Aku menghilangkan segala kegelisahan dan ketakutanku karenamu. Dan, di batas akhir jalan kita, aku akan tetap datang menjengukmu. Memanggilmu dalam darah dan airmata. Ingatlah, Sayang! Aku akan segera datang bersama turunnya hujan. Aku akan datang bersama hebusan angin. Untuk menemuimu. Melepaskan segala kerinduan ini.”
Sophie bangkit dari duduk simpuhnya. Namun apalah daya, tubuhnya mengejang. Tak bisa digerakkan. Pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Dunia terpecah-pecah menjadi puing-puing berhamburan. Terhempas angin. Lantas gelap. Ia pun terhuyung. Jatuh. Rubuh.
Tiga untai bunga kamboja jatuh menyentuh tiga bagian tubuh nyonya muda yang terkulai di tepian pusara lelakinya yang masih basah. Serentet kata lirih keluar dari mulutnya yang nyaris tak bergerak, “Aku hanya ingin... mengabadikan cintaku... dengan caraku sendiri. Sung... guh... ha.. nya... i... tu...”
Jakarta, 14 Agustus 2012
Handoko F Zainsam. Pria kelahiran Madiun, 06 Oktober ini menjadi pendiri dan penggagas Komunitas Mata Aksara—Jakarta dan CK Writing Studies Club-Jakarta. Karya-Karyanya: I’m Still A Woman—Perempuan Dalam Dua Tanda Kurung (Novel), Kota Sunyi Tahajud Cinta Kunang-Kunang (Kumpulan Puisi), Ma’rifat Bunda Sunyi (Kumpulan Puisi). Karya-karya lainnya banyak dimuat di beberapa media cetak seperti Jawa Pos, Republika, Kompas.com, Jurnal Bogor, Matra, Penyebar Semangat, Story Teenlit Magazine, Djoko Lodhang, Penjebar Semangat, dan beberapa media lainnya. (kompas.com)

09.57 | Posted in | Read More »

HMI Galang Dana Untuk Tragedi Sampang

Pamekasan- Tragedi penyerbuan dan pembakaran di Omben Sampang menyulut perhatian banyak pihak, diantaranya adalah mahasiswa Pamekasan tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Pamekasan dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan.
Aksi yang digelar HMI dan PMII itu merupakan aksi solidaritas berupa pengumpulan koin untuk di sumbangkan ke korban tragedi Omben Sampang.
Salah seorang peserta aksi Dharma mengatakan bahwa aksi ini dilakukan dalam rangka meringankan beban penderitaan warga korban pasca tragedi.
"Kami prihatin, mereka hidup dalam kekurangan akibat tragedi tersut" terang anggota HMI cabang Pamekasan tersebut.
Menurutnya dana yang terkumpul hari ini akan diserahkan langsung kepada warga setempat berbentuk komsumsi.
Perlu di ketahui HMI-PMII ini melakukan aksi penggalangan dana di areal monomen arek lancor bagian selatan.
Ketua HMI cabang Pamekasan Moh. Mansur mengatakan bahwa aksi penggalangan dana ini akan dilaksanakan selama tiga hari di wilayah kota Pamekasan.
oleh: AzisMaulana

20.55 | Posted in , | Read More »

Sebuah Nama MADURA


Dari mana asal nama Madura?

Ditinjau dari bukti sejarah yang ada, Madura pertama-tama muncul di dalam catatan sejarah melalui hubungannya dengan kerajaan Budha Shiva Singasari (abad ke-13) kemudian Majapahit (abad ke-14) di Jawa Timur. Lombard menulis tentang hal itu (1972: 259) :
Nama Madura, ditulis Madura, tertera tiga kali didalam Nagakertagama, terutama pada tembang XV. Disitu ditulis bahwa “Madura tidak termasuk negeri yang asing, karena sejak semula bersatu dengan tanah Yawa.” Kutipan itu penting karena menunjukkan bahwa orang Jawa dan orang Madura sudah merasa sebagai anggota dari komuitas budaya yang sama. Ditulis belakangan,Pararaton, atau “Kitab Para Raja”, mencatat peristiwa yang lebih kuno sekali dan terutama pengalaman, disekitar tahun 1271, dari seorang bernama Wiraraja, yang “diasingkan” kemadura oleh raja Singasari, Kertanegara, sebagai adipati Sumenep karena ia tidak lagi berkenan bagi rajanya. Wiraraja yang sama beberapa waktu kemudian memberikan perlindungan kepada Raden Wijaya dan membantunya untuk mendirikan Majapahit.
Ada juga yang menuliskan bahwa Nama Madura berasal Ketika para penganjur agama hindu dari India  tiba di Nusantara di abab-aba awal milenium pertama, ada juga yang sampai pada sebuah pulau. Kaum Brahma yang terhitung terpelajar tadi rupanya menemukan pulau yang indah, sehingga  dengan menggunakan bahasa sangsekerta dinamakanlah pulau tersebut Madura (Gonda 1973: 345, Rifai 1993:9). Kata madura dalam bahasa sangsekerta memang berarti permai, indah, molek, cantik, jelita, manis, ramah tamah, lemah lembut (Mardiwarsito, 1978). Dapatlah dimengerti jika beberapa abad kemudian Jayendradewi Prajnaparamita – salah seorang isteri Raja Majapahit pertama Sri Kertarajasa Jayawardana – yang melambangkan gunacaranurupita satyapara (watak yang sangat setia dan kaya akan sifat baik dan berguna) serta memiliki anindyeng raras (kecantikan rupa tanpa cacat) dibandingkan dengan prakarti (pekerti, watak, tabiat, kodrat) pulau Madura (bustami 1996: 326)
Nama Madura mungkin pula diilhami dan diambilkan dari Madura, sebutan suatu daerah berwanda serupa di India Selatan yang juga beriklim kering.  Penamaan sedemikian bukanlah suatu keanehan, sebab beberapa nama tempat lain di Indonesia seperti, Malabar, Narmada, Serayu, Sunda, dan Taruma, memang persis sama dengan nama geografi di India (Rifai, 2007: 29)
Secara keratabasa (etimologi rakyat) dikalangan masyarakat awam banyak berkembang asal usul nama Madura yang direka –  reka sebagai suatu ungkapan yang dikaitkan dengan mitologi dan lagenda setempat. Dikenal di kalangan masyarakat Madura sendiri Madura berasal dari kata diantaranya adalah maddhunah saghara (madu segara/laut), maddhu e ra – ara (madu di tanah lapang), maddhunah dara (madu darah), madara (berdarah), paddhu ara(dari dari bahasa Jawa Kawi, yang berarti pojok tanah berair, atau tapak di pojok Jawa), dan lemah dura (dari bahasa kawi yang berarti tanah di kejauhan). Akan tetapi tidak satu pun dintara dugaan asal usul nama Madura bersumberkan singkatan tadi yang memiliki landasan ilmiah tak terbantahkan, karena dulu memang bukan demikian cara orang memberi nama pada suatu tempat atau daerah (Rifai, 2007:30 )

Manusia Pertama Madura

Sejak kapan orang Madura mendiami pulau Madura? Sampai saat ini belum ada data historis yang akurat. Salah satu legenda yang bersumber dari tulisan Zainalfattah (1951: 7-13) menyebutkan bahwa “orang pertama” yang mendiami pulau Madura sekaligus awal ditemukannya pulau Madura sekitar tahun 929 Masehi.
Pada waktu itu, seorang puteri dari sebuah kerajaan di pulau Jawa bernama Mendangkamulan tanpa sebab yang jelas diketahui telah hamil. Mengetahui kondisi puterinya demikian sang raja marah dan menyuruh seorang patihnya bernama Pranggulang untuk membunuh sang puteri. Tapi upaya pembunuhan itu selalu gagal sehinggga akhirnya sang puteri melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Raden Sagoro. Sedangkan patih Pranggulang tidak berani kembali ke keraton dan merubah namanya menjadi Kiyai Polèng. Menurut legenda itu, Raden Sagoro dan ibunya kemudian dihanyutkan ke tengah laut dengan sebuah ghitèk (rangkaian kayu kecil yang berfungsi sebagai perahu). Akhirnya Raden Sagoro dan ibunya terdampar di sebuah daratan yang ternyata kelak dikenal dengan nama gunung Gegger (wilayah kabupaten Bangkalan). Daratan ini disebut “madu oro” yang mempunyai arti pojok di ara-ara atau pojok menuju ke arah yang luas. Dari kata “madu oro” inilah konon asal mula kata Madura. Raden Sagoro dan ibunya disebut dalam legenda itu sebagai penghuni pertama pulau Madura.
Terlepas dari akurat tidaknya tentang asal usul nama sebuah pulau yaitu Madura, yang pasti pulau tersebut punya bahasa khas tersendiri yang menjadi identitas suatu masyarakat madura dengan lainnya yaitu bahasa Madura. Penelitian ilmiah berusaha menemukan fakta tentang asal usul nama Madura. Sedangkan mitos, atau legenda yang beredar dimasyarakat madura itu sendiri tidak bisa dinafikan adanya.
Orang mendiami suatu pulau yang kemudian dikenal dengan nama orang madura sudah ada di pulau tersebut sejak lama. Tidak bisa di tentukan secara pasti sejak kapan. Namun, orang madura tersebut sudah lama mendiami dan berinteraksi dengan alamnya sehingga membentuk kebiasaan tersendiri, karakter dan budaya dimana tidak terdapat atau dimiliki oleh orang di luar pulau tersebut. Penamaan  pulau madura dan orang madura yang pasti merujuk pada apa-apa yang ada dipulau tersebut.
Namun, bila kita bandingkan dengan benua Amerika atau Australia, mereka disebut orang Amerika atau Australia walau pada dasarnya mereka kebanyakan berasal dari Inggris. Kemudian membentuk budaya dan peradabannya sendiri menjadi Amerika atau Australia. Suku aborigin dan indian tidak lah menjadi identitas kedua benua tersebut.
Berbeda dengan pulau dan orang madura. Pulau dan orang madura adalah pulau tersendiri dan orang madura sendiri yang menjadi sesuatu yang disebut madura. Bila madura juga terwarnai oleh orang india, jawa, bugis dan mungkin suku-suku lainnya hal ini dapat terjadi. Mereka hanya mewarnai dan memperkaya madura yang sudah ada. Oleh karena madura memeiliki beberapa karakter dan perbedaan logat bahasa dari setiap kabupaten yang ada.

09.47 | Posted in , , , , | Read More »