Produk Unggulan Madura Dilelang saat Karapan Sapi
Menurut Sekretaris Bakorwil IV Madura, Tajul Falah, Selasa, pameran dan lelang produk unggulan itu sengaja digelar untuk mempromosikan hasil produksi pertanian masyarakat Madura kepada warga luar Madura yang datang ke Pamekasan untuk menyaksikan karapan sapi dan gelar budaya lainnya.
"Jadi ini merupakan salah satu upaya untuk mengangkat perekonomian masyarakat di Pulau Garam ini," kata Tajul Falah menjelaskan.
Pameran dan lelang produk unggulan hasil pertanian itu nantinya akan digelar selama 12 hari, yakni mulai tanggal 17 hingga 28 Oktober 2012.
Waktu yang disediakan pemerintah lebih lama dibanding pameran dan lelang produk unggulan pada musim karapan sapi tahun lalu yang hanya berlangsung selama 3 hari.
"Waktunya sengaja kami tambah, karena ternyata pada tahun lalu, peminat yang mengikuti lelang itu lumayan banyak," katanya menjelaskan.
Pada pelaksanaan karapan sapi tahun lalu, lelang produk unggulan hasil pertanian masyarakat yang digelar oleh Bakorwil IV Madura mencapai Rp32 miliar dengan komuditas paling banyak diminati pembeli adalah cabai jamu.
Bahkan nilai produk hasil pertanian cabai jamu ini mengalahkan hasil lelang produk kerajinan batik yang juga banyak di Pulau Madura.
"Dalam pelaksanaan lelang produk unggulan hasil pertanian dan kerajinan warga Madura ini, kami bekerja sama dengan sejumlah agen travel yang ada disini," kata Tajul Falah menjelaskan.
Menurut Kabid Pariwisata Dinas Perindustrian dan Perdagangan Halifaturrahman, kegiatan festival budaya Madura yang biasa digelar setiap tahun bersamaan dengan pelaksanaan karapan sapi itu, memang memiliki potensi ekonomi yang sangat bagus.
Oleh karenanya, pemerintah terus mendorong agar kegiatan tradisi budaya ini tetap lestari setiap tahun, sehingga pada akhirnya bisa meningkatkan perekonomian di Madura.
"Salah satu yang kita terus upaya adalah bagaimana menghapus praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi, agar tidak timbul persepsi negatif di kalangan masyarakat luar," kata Halifaturrahman.
Sebab, sambuang dia, jika praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi masih berlangsung, pihaknya khawatir, masyarakat luar, seperti wisatawan asing tidak akan tertarik lagi untuk datang ke Madura. (antarajatim.com).
