|

Tentang Perempuan yang Mencintai Lelakinya


Cerpen Handoko F Zainsam
Catcher:
Tiga untai bunga kamboja jatuh menyentuh tiga bagian tubuh nyonya muda yang terkulai  di tepian pusara lelakinya yang masih basah. Serentet kata lirih keluar dari mulutnya yang nyaris tak bergerak, “Aku hanya ingin... mengabadikan cintaku... dengan caraku sendiri. Sung... guh... ha.. nya... i... tu...” ***
Kriingg! Kriiinnggg…!
Dering telepon itu cukup mengejutkannya. Setelah sekian jam dia tak bisa memejamkan mata, dan hanya membolak-balikkan badan dengan hati yang diliputi kegelisahan, dering itu cukup membuat jantungnya berpacu lebih cepat lagi. Gemetar dia meraih telepon genggam yang tergeletak di meja di sisi ranjang.
Suara di seberang itu masih sangat diingatnya, laki-laki yang tak pernah dia temui.  Suaranya begitu berat dan dingin.
“Saya hanya butuh foto dan info di mana biasanya ia berada. Sisanya urusan saya,” suara berat lelaki itu cukup membuatnya merinding.
“I… iya. Besok Anda bisa ambil fotonya. Saya akan taruh di bawah tong sampah di kantor pos Fatmawati jam lima pagi. Di baliknya, saya akan tulis nama dan alamat kantornya,” suara Sophie terpatah-patah.
“Oke!”
“Ee, soal harga?” Sophie memberanikan diri.
“Untuk harga seorang yang mungkin sangat Anda sayangi. Itu sudah teramat murah, Nyonya…”
“Tapi.... Nggak bisa di…”
“Nyonya, Nyonya… Jika Anda merasa nggak nyaman dengan transaksi ini, gampang kok. Anda cukup tutup telepon dan anggap pembicaraan yang mengasyikkan ini tidak pernah ada. Gampang kan?”
“Ee.. bukan. Jangan begitulah, Tuan...”
“Nyonya, jaman sekarang ini, nggak ada yang susah. Anda tinggal angkat telepon, masukkan kode, dan transaksi selesai. Teknologi modern sangat memudahkan kita untuk melakukan ini semua kok. Anda pasti mengerti maksud saya.”
“I… iya. Saya mengerti,” ucap Sophie kelu.
“Jangan lupa, Nyonya. Empat puluh lima persen saja dulu. Anggap saja itu diskon dari saya. Sisanya akan anda lunasi saat anda mendengar berita kelanjutannya. Mudah bukan?”
“Iya. Saya mengerti.”
“Bagus! Sekarang Anda tinggal tunggu tiga hari ke depan. Selamat berlibur, Nyonya. Nikmati hari-hari Anda dengan nyaman dan damai. Doa saya selalu menemani Anda. Salam.”
“Tut… tut… tut…
***
Keputusannya untuk menghubungi lelaki yang tak pernah ia kenal itu telah dipikir hampir enam bulan. Keputusan yang entah darimana datangnya selain atas nama cinta.
Cinta?
Dia merasakan kuduknya merinding. Pelukan hangat yang kerap dia peroleh di tiap malam. Bisikan cinta yang kerap dia dengar setiap jam. Lumatan yang tak pernah abai, serta… ketakutan yang pernah selesai.
Dia mendegut ludahnya.
***
Pukul 20.05 WIB, Sophie dan lelaki yang sangat ia cintai itu telah sampai di tepian pantai Ancol. Terlihat banyak pasangan muda-mudi berpelukan mesra. Canda tawa sesekali terlihat lepas. Di temaramnya suasana, terlihat pula sepasang muda-mudi lain yang juga lagi asyik berciuman. Mereka sepertinya lupa bahwa banyak mata yang memandang. Bahkan ada yang lebih dahsyat dari itu semua.
“Kamu kedinginan, Sayang?”
Sophie menggeleng.
“Lelah? Kita istirahat di kafe itu dulu, yuk?”
Sophie mengangguk. Merasakan kehangatan dan ketulusan yang rasanya tak pernah habis dari sosok di sebelahnya ini.
Mereka memilih meja yang bersisian langsung dengan pantai. Tangan lelaki itu tak lepas dari bahunya. Mengelusnya lembut dan kecupan-kecupan kecil acap mendarat di kening dan rambut Sophie.
“Kamu mau makan apa, Sayang?”
Baru saja Sophie akan membuka mulutnya ketika lelaki itu mengeluarkan telepon genggam dari sau celananya dan menjawab sebuah panggilan masuk.
“Ohh ya, Ana. Ya, ya, coba dicek lagi ya… Kamu tau kan, tenggatnya sudah dekat. Ya…, ya. Nanti hubungi saya lagi ya. “
“Siapa?” tanyanya begitu lelaki itu menutup teleponnya.
“Bagian admin di kantor. Sedang lembur rupanya dia.”
Sophie menarik napas dalam-dalam.
“Ayo, kamu mau makan apa? Hmm, setelah ini kita harus menciptakan malam yang hangat sampai pagi, sebelum aku berangkat ke Surabaya besok. Okey, Sayang”
Rasa itu muncul lagi. Ketakutan yang amat sangat yang mendera. Dia mencoba tersenyum. Sebuah senyum penuh makna cinta terlepas bagai busur panah Cupit. Sophie terus saja memandang lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang tak pernah menyakiti hatinya. Lelaki yang selalu mengalah untuk melayani setiap keinginannya.
***
Romantisme, kasih sayang, cinta, kerinduan, semuanya bercampur, mendesak dan memenuhi hatinya, bersamaan dengan perasaan lain yang semakin lama mencengkeram imajinasinya.
“Aku terlalu mencintainya. Dan aku tau dia juga begitu mencintaiku. Tetapi apakah aku dan dia tau, jika suatu kali nanti sesuatu yang tak diinginkan terjadi?” Sophie menggigit bibirnya. “Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi. Dan aku tak ingin ada yang terjadi antara aku dan dia. Aku teramat mencintainya.”
Semua bergelung dan membuatnya semakin limbung.
“Maafkan aku, Sayang!”
***
Hari ini, tiga hari pasca transaksi itu terjadi, masih tak ada kabar yang berarti bagi Sophie. Ia masih tergeletak di ranjang tidurnya. Sebuah buku berjudul Sejarah Tuhan tulisan Karen Armstrong masih tergeletak. Keayuan wajahnya tersirat begitu alami. Tanpa ada make up yang terpoles. Sungguh, wanita ayu penuh pesona. Piyama tidurnya sedikit tersingkap. Sebentuk tubuh penuh lekuk terlihat nyata. Mencipta oase di padang tandus. Menyihir mata tiap lelaki yang memandangnya.
Mata Sophie beralih ke telepon genggam di sampingnya. Ada tanda sebuah pesan masuk.
Pagi, Sayang…
Aku akan terlambat pulang karena masih ada rapat yang harus diselesaikan hari ini juga.  Selalu cinta. Muah.
sender:
+6281677…
Send:
10.04.30
17-8-2006
Dia tersenyum. Lelaki itu, suaminya, tak pernah lalai akan romantisme. Tetapi sebentar kemudian senyumnya hilang. Imajinya mendadak liar. Hanya untuknya kah romantisme itu? Bagaimana jika... Jika... Sophie menggeleng. Mengusir gambar-gambar yang mendadak mengelilingi kepalanya. Tawa suaminya, hangat peluknya, lumatannya, gairahnya… ah, bagaimana dengan gambar-gambar perempuan di sekeliling laki-laki itu?
“Aku tak bisa hidup tanpamu, Sayang,” suara laki-laki itu terngiang. Kalimat yang selalu dibisikan di malam-malam mereka.
Sungguhnya kalimat itu hanya untuknya?
“Mbaaaaaak!” Sophie menghalau pikiran itu dengan teriakannya memanggil pembantunya.
“Iyaaa, Buuu!”
“Tolong sediakan air hangat ya, Mbak!”
“Baik, Bu...”
Di kamar mandi Sophie mengguyur badannya berlama-lama. Namun bayangan kegalauan itu tak juga sirna. Air hangat terus menelusuri setiap lekuk tubuhnya, menjamah tiap bagian-bagian yang ada penuh pesona. Rambut panjangnya yang sebahu, lehernya yang jenjang, dadanya yang menantang, pinggulnya yang ramping, dan air merayapi seluruhnya.
***
Sophie kembali melanjutnya buku yang tinggal menyesaikan bagian terakhirnya. Suasana hening membuat Sophie semakin larut. Sophie semakin gelisah.
Cinta. Cinta. Cinta. Ini teramat menyakitkan!
Dia menggeleng.
Wajah suaminya berkelebat memenuhi benaknya. Membuat apa yang dibacanya tak bisa ia cerna.
“Cinta adalah menjaga dan meniadakan.”
Kalimat yang lahir dari pikirannya itu terus menghantuinya. Menciptakan ketakutan-ketakutan baru.
Ia gundah. Mungkin karena ini merupakan hari ketiga pasca perjanjiannya dengan lelaki yang telah ia sewa. Hari terakhir dan kepastian dengan lelaki yang sangat dingin. Lelaki yang sepertinya tak ada sentuhan cinta dalam hatinya. Lelaki yang tidak bakal mau ia kenal dan temui lagi setelah transaksi kali ini.
Kembali Sophie melihat ke arah telepon genggamnya. Dia menghela napas dalam-dalam. Ia berharap, lelaki yang amat dingin itu gagal menjalankan tugasnya. Ah! Setelah sesaat termenung, ia letakkan buku di samping kirinya. Ia raih telepon genggam dan segera menyambungkan ke nomor lelaki yang sangat ia cintai untuk memastikan keberadaannya. Namun sebuah pesan masuk membuatnya membatalkan sambungan itu. Sebuah nomor yang tak ia kenal.
Salam damai.
Saya harap sore ini, nyonya sudah bisa memeluknya untuk yang terakhir kali.
Salam.
sender:
+62818994…
Send:
10.34.30
17-8-2006

Zhiingg!
Seketika Sophie tergugu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya napasnya saja yang semakin cepat. Jantung berdetak lebih kencang. Tak terasa, butiran bening meleleh dari kelopak matanya. Tak ada suara. Wajahnya terlihat kosong. Ia lemparkan telepon genggam di tangannya. Ia jatuhkan tubuhnya dihamparan empuk ranjang tidurnya. Ia tutup wajahnya dengan bantal. Ia peluk guling erat-erat. Entah, apa yang ia rasakan setelah membaca small message service itu. Mungkin senang, sedih, atau bahkan bangga. Entah!
Kosong….
 Hening….
***
Dunia berputar mencipta waktu. Merah, kuning, biru, hijau semua menjadi satu. Menjadi kilau terang cahaya. Angin lembut berhempus. Sore itu lelap. Di pemakaman lelaki yang sangat ia cintai, Sophie masih bersimpuh. Ia peluk gundukan tanah basah makam. Lirih ia bersenandung, “Sayang, cinta adalah menjaga dan meniadakan. Aku menjagamu dari segala hal yang akan merebutmu dariku. Aku menghilangkan segala kegelisahan dan ketakutanku karenamu. Dan, di batas akhir jalan kita, aku akan tetap datang menjengukmu. Memanggilmu dalam darah dan airmata. Ingatlah, Sayang! Aku akan segera datang bersama turunnya hujan. Aku akan datang bersama hebusan angin. Untuk menemuimu. Melepaskan segala kerinduan ini.”
Sophie bangkit dari duduk simpuhnya. Namun apalah daya, tubuhnya mengejang. Tak bisa digerakkan. Pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Dunia terpecah-pecah menjadi puing-puing berhamburan. Terhempas angin. Lantas gelap. Ia pun terhuyung. Jatuh. Rubuh.
Tiga untai bunga kamboja jatuh menyentuh tiga bagian tubuh nyonya muda yang terkulai di tepian pusara lelakinya yang masih basah. Serentet kata lirih keluar dari mulutnya yang nyaris tak bergerak, “Aku hanya ingin... mengabadikan cintaku... dengan caraku sendiri. Sung... guh... ha.. nya... i... tu...”
Jakarta, 14 Agustus 2012
Handoko F Zainsam. Pria kelahiran Madiun, 06 Oktober ini menjadi pendiri dan penggagas Komunitas Mata Aksara—Jakarta dan CK Writing Studies Club-Jakarta. Karya-Karyanya: I’m Still A Woman—Perempuan Dalam Dua Tanda Kurung (Novel), Kota Sunyi Tahajud Cinta Kunang-Kunang (Kumpulan Puisi), Ma’rifat Bunda Sunyi (Kumpulan Puisi). Karya-karya lainnya banyak dimuat di beberapa media cetak seperti Jawa Pos, Republika, Kompas.com, Jurnal Bogor, Matra, Penyebar Semangat, Story Teenlit Magazine, Djoko Lodhang, Penjebar Semangat, dan beberapa media lainnya. (kompas.com)


Posted by IndecsOnline.com on 09.57. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response
Kirim Komentar Anda:
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan www.dumaiportal.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. www.dumaiportal.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

0 komentar for "Tentang Perempuan yang Mencintai Lelakinya"

Leave a reply