Anas Jual Mobil Harier karena Nazaruddin Membual
JAKARTA-- Pengacara Anas Urbaningrum, Firman Wijaya,
menolak jika mobil Toyota Harier yang sempat dimiliki Anas adalah
gratifikasi dari Nazaruddin. Ia mengatakan mobil itu murni dibeli Anas
dengan bantuan Nazaruddin.
Firman dalam konfrensi persnya di
"Warung Daun" Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2013), mengatakan Anas
pada sekitar Agustus 2009 sempat mengutarakan keinginannya untuk
memiliki mobil Toyota Harier. Nazaruddin kemudian menawarkan diri untuk
menalangi pembelian mobil yang saat itu dibandrol Rp 675 juta.
Kemudian pada akhir 2009 Anas yang saat itu masih menjabat sebagai
anggota DPR, kemudian menyerahkan uang tunai Rp 200 juta kepada
Nazaruddin sebagai uang muka.
"Transaksi itu disaksikan oleh
Saan Mustopa, Pasha Ismaya Sukardi, Nazaruddin dan Maimara Tando, dari
Media belakangan diketahui ternyata Nazaruddin membayar mobil itu dengan
cek atas nama PT.Pacific Putra Metropolitan," katanya.
Pada 12
September 2009 mobil itu kemudian diambil staf Anas bernama Nurahmad
dari kantor Nazaruddin. Kemudian cicilan kedua Rp 75 juta dibayarkan
tunai oleh Anas melalui stafnya di DPR, Muhamad Rahmad.
Pada
akhir bulan Mei 2010, setelah kongres Partai Demokrat di Bandung dimana
Anas dipilih sebagai ketua Umum Partai Demokrat dan Nazaruddin terpilih
menjadi Bendahara partai, Anas mendengar kabar burung bahwa mobil
tersebut adalah pemberian Nazaruddin.
"Akhirnya pak Anas
mengembalikan mobil itu, tapi saudara Nazaruddin sempat menolak dengan
alasan rumahnya sudah penuh, Nazaruddin minta mentahnya (red. uangnya)
saja," terang Firman.
Anas pada Juli 2010 kemudian meminta
Nurahmad untuk menjual mobil itu ke showroom di Kemayoran, dan mobil itu
laku dengan harga Rp 500 juta. Uang penjualan mobil itu ditransfer
langsung ke rekening Nurahmad. Anas kemudian meminta ia untuk
menyerahkan uang itu langsung ke Nazaruddin.
"Setelah
menghubungi Nazaruddin akhirnya disepakati untuk bertemu di Plaza
Senayan pada 17 Juli 2010, Nurohmad pergi bersama Yadi dan Adromi
sebagai saksi, tapi akhirnya Nazaruddin tidak datang, dia menyuruh
ajudannya," terangnya.
Firman mengaku sudah menyerahkan
bukti-bukti transaksi tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
pada saat ketua umum Partai Demokrat itu diperiksa KPK tahun lalu. Saat
ditanya kenapa hal itu baru diungkap sekarang setelah 1,5 tahun
Nazaruddin memojokan Anas, Firman tidak menjawab dengan jelas.
Rahmat yang juga hadir pada acara itu mengakui, bahwa sebenarnya
Nazaruddin sudah membual jauh sebelum kongres di Bandung. Hal itu
membuat Anas kecewa, sehingga memilih untuk mengembalikan mobil.
Hubungan mereka merenggang karenannya. Kata Rahmad ketua partai juga
tidak pernah memilih Nazaruddin untuk duduk sebagai Bendahara.
"Seingat saya pak Anas cuma mengajukan dia mau ditemani Ibas sebagai sekjen, kalau Nazaruddin saya tidak tahu," terangnya. (tribunnews.com)
