Presiden Terus Curhat, Berlebihan
JAKARTA, KOMPAS.com - Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai berlebihan terkait keluhan atas kritikan dari publik selama kepemimpinannya. Pasalnya, kritikan publik baru muncul ketika periode kedua kepemimpinan SBY.
"Secara komunikasi publik itu tidak tepat. Dia mengatakan delapan tahun dihujat oleh rakyat. Menurut saya tidak benar juga. Faktanya intensitas peningkatan kritik dari rakyat baru muncul dua tahun terakhir atau pasca-2009," kata pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi ketika dihubungi, Jumat ( 22/2/2013 ).
Sebelumnya, saat membuka Rakernas Asosisasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Presiden mengungkapkan curhatan dari kepala daerah yang kebijakannya selalu disalahkan masyarakat. Menjawab curhatan itu, Presiden curhat balik.
"Pak bupati dikritik, dihujat, disalahkan oleh masyarakat di kabupaten ini. Waktunya 4 tahun. Pak gubernur, bapak dikritik, disalahkan, dihujat oleh provinsi itu selama 3 tahun. Nah, saya yang salahkan, yang hujat seluruh rakyat Indonesia, dan sudah lebih dari 8 tahun. Kalau saya kuat, bapak-bapak harus kuat," kata Presiden.
Tak hanya itu. Ketika menanggapi mundurnya puteranya, Edhi Baskoro Yudhoyono alias Ibas dari DPR, SBY juga menyampaikan curhatan yang sama. Dia merasa bahwa saat ini adalah masa yang berat baginya maupun keluarga. Kondisi itu, kata SBY, sudah dialami sejak 2004 . Hanya saja, tambah dia, serangan, hujatan, bahkan fitnah itu luar biasa belakangan ini.
Burhanuddin mengatakan, pada periode pertama 2004-2009 , publik masih memaklumi kinerja SBY sehingga tidak banyak kritikan. Lalu, pada periode kedua 2009-2014, publik mempunyai ekspektasi yang lebih besar terhadap SBY.
"Ini yang disebut teori peran harapan. Jadi periode kedua, waktu SBY tinggal setahun terakhir. Karena itu dia harus memberikan peran sebesar-besarnya. Bila ekspektasi dianggap sebagai sebuah hujatan, saya rasa tidak tepat. Secara komunikasi publik tidak cukup membantu meningkatkan citra pemerintah," kata Burhanuddin.
Ketika ditanya apakah ada strategi di balik curhatan sama yang disampaikan berkali-kali itu, Burhanuddin menilai tidak ada strategi apapun dari sikap SBY itu. Menurut Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, curhat murni menjadi karakter SBY.
"Saya kira kalau strategi sebagai pihak yang teraniaya, diserang dari 8 penjuru mata angin, menurut saya itu sudah usang. Itu strategi pencitraan usang dan tidak cukup membantu memulihkan citra SBY di mata publik. Menurut saya memang karakter SBY seperti itu, bawaan dari orok. Yah sudah, kita terima saja sebagai bagian dari demokrasi," pungkas dia. (Kompas.com)
redaksi
