Centries: Kasus Sampang Ancaman Bagi Kerukunan Beragama
Sampang - Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah oleh kelompok yang diduga dari Sunni, bisa menjadi ancaman bagi kerukunan umat beragama dan keutuhan negara bangsa, kata Direktur Central of Religion and Political Studies (Centries), Sulaisi Abdurrazak.
"Para pihak harus bergerak cepat mengatasi persoalan ini. Penyelesaian permasalah beda paham harus tuntas hingga ke akar-akarnya," kata Sulaisi kepada ANTARA, Selasa.
Di Indonesia, toleransi dan pluralisme adalah menjadi dasar dalam hidup berbangsa dan bernegara, karena landasan ideologis negara adalah Pancasila. Sehingga kebhinnekaan menjadi sebuah keniscayaan yang harus tetap terpelihara.
Kasus penyerangan terhadap kelompok Syiah oleh kelompok yang diduga dari Sunni, menurut dia, telah memberikan gambaran bahwa kerukunan antarumat beragama mulai ternodai.
Padahal toleransi, menghargai perbedaan pendapat, perbedaan dalam berkeyakinan, termasuk menghargai perbedaan dalam segala hal adalah menjadi identitas bangsa dan itulah yang menjadi jati diri bangsa.
"Jika permasalah ini tidak bisa diselesaikan hingga tuntas, saya yakin nantikan kasus serupa akan terjadi lagi. Yang lebih dikhawatirkan, bagaimana jika kasus ini merembet ke wilayah lain," katanya menambahkan.
Penegakan hukum dalam kasus yang menyebabkan 1 orang tewas dan enam orang lainnya luka serta sebanyak 37 unit milik kelompok Syiah di Sampang dibakar ini, multak diperlukan.
"Itu agenda jangka pendek yang saya kira perlu dilakukan," ucap Sulaisi.
Dalam jangka panjang, kata dia, para pihak pemuka agama, perlu melakukan formulasi ulang tentang paradigma dan sistem pendidikan agama yang lebih memberikan ruang untuk bersikap toleran terhadap perbedaan keyakinan dan perbedaan paham.
Mantan Ketua Umum HMI Cabang Pamekasan 2009-2010 ini menilai, materi perbandingan mazhab atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam harus diajarkan sejak dini, sebagai upaya untuk membentuk wawasan keagamaan yang lebih luas.
"Saya anggap ini penting agar wawasan keagamaan kita tidak berpaham 'kaca mata kuda'. Hanya tau satu paham yang dianggap paling benar, sehingga menganggap paham dan keyakinan yang berbeda salah," kata dia.
Padahal, sebagai bentuk ajaran yang bersumber dari yang Maha Mutlak, agama jelas tidak akan bisa ditafsir manusia yang memiliki persepsi dan kemampuan intelektual beragam, hanya dalam satu bentuk saja.
"Di Madura, upaya mengajarkan pemahaman keagamaan yang lebih beragam, sampai saat ini belum berjalan seperti diharapkan," ucap Sulaisi.
Dari sisi penegakan hukum, alumni pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini juga meminta polisi tegas menangkap semua pelaku penyerangan kelompok Islam Syiah di Sampang itu.
Ia juga meminta aktor intelektual dalam kasus penyerangan itu juga ditangkap. Ia yakin, gerakan penyerangan yang dikakukan kelompok massa yang terjadi pada Minggu (26/8) itu, karena ada penggeraknya.
"Jangan sampai penegakan hukum yang dilakukan polisi seperti kasus yang pertama, dimana yang ditangkap hanya satu orang, padahal pelakunya ratusan dan polisi saya yakin tahu siapa penggeraknya," katanya menambahkan. (*)
Sumber: antarajatim.com
oleh: AzisMaulana
