Kurikulum Baru, Program Master Teacher Dinilai Tak Efektif
JAKARTA- Pelatihan guru dengan metode master teacher untuk mempersiapkan guru dalam menerapkan kurikulum baru pada Juli mendatang kembali menuai kritikan. Hal tersebut dinilai tidak akan efektif dan rentan gagal sehingga berimbas pada penerapan kurikulum baru.
Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Muchlas Samani, mengatakan bahwa pelatihan guru secara massal dengan hanya datang ke sebuah seminar saja tidak akan cukup. Bahkan dikhawatirkan ilmu dari seminar tersebut tidak terserap dengan baik sehingga saat disampaikan pada guru lain justru tidak sesuai dengan harapan.
"Guru kita itu jarang yang diberi cerita atau pidato terus paham. Misal ada 100 guru yang ikut paling hanya 16 atau 20 yang paham. Padahal mereka harus meneruskan ke guru lainnya lagi, sulit pasti," kata Muchlas saat Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Jakarta, Senin (28/1/2013).
"Jadi daripada dipanggil rame-rame ke LPMP, profesornya pidato tapi terus lupa semua. Lebih baik langsung ke lapangan," imbuh Muchlas. Ia mengusulkan agar guru-guru tersebut bergilir diundang ke sekolah yang bagus dengan durasi selama dua hari. Kemudian guru diminta melakukan observasi dan berdialog langsung dengan guru sekolah tersebut.
Selanjutnya, para guru yang tengah dilatih ini diminta untuk membuat rencana pengajaran sesuai dengan pengalaman yang diperoleh selama dua hari tersebut. "Untuk melihat dan mengevaluasi rencana pengajarannya, guru-guru ini akan didampingi. Saya rasa ini lebih efektif karena guru merasakan dan mengalami langsung," jelas Muchlas.
Ia juga menegaskan bahwa pelatihan guru tidak bisa dilakukan instans hanya dalam hitungan bulan saja. Menurutnya, pelatihan guru yang baik semestinya dijalankan selama dua tahun. "Pelatihan guru itu minimal dua tahun. Kemudian bukan pelatihan rame-rame begitu. Lebih ke observasi langsung. Orang lebih cepat paham kalau praktek dan merasakan sendiri," ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rochmat Wahab. Ia menilai pelatihan guru yang direncanakan masing-masing selama 52 jam pertemuan baik untuk guru inti, kepala sekolah, guru dan pengawas itu tidak akan bisa menuai hasil yang optimal.
"52 jam pertemuan itu nggak bisa. Apalagi untuk mengubah mindset dan perilaku guru," ujar Rochmat. "Kecuali jika itu tidak dilakukan dalam jumlah massal karena dapat dikendalikan. Tapi jika dalam jumlah massal hingga ratusan ribu, takutnya malah tidak optimal," jelas Rochmat. (Kompas.com)
redaksi
