Maulid: Muhasabah untuk menteladani Nabi Muhammad
Jakarta- Peringatan maulid yang masih menjadi kontroversi dikalangan umat Islam sudah saatnya dipandang sebagai ikhtilaf yang lumrah ternjadi dalam menafsirkan sebuah teks.
"Jangan lagi dinilai sebagai sumber perpecahan dikalangan umat Islam itu sendiri" tegas Moh. Syakir Ransa direktur LePPAS di Jakarta (24/01).
Syakir menambahkan, yang menjadi kontroversi pada perayaan maulid itu hanya pada persoalan serimonialnya.
"Tetapi pada substansi mengingat Rosul itu, tentu semua golongan membolehkan" aktivis asal Madura ini menjelaskan
Mantan ketum HMI cabang Pamekasan ini juga menuturkan bahwa muhasabah atas prilaku umat sangatlah penting, sehingga pada saat memperingati maulid nabi mestinya menjadi prioritas.
Syakir menyatakan, Nabi Muhammad sebagai nabi dan panutan umat, mengingatnya untuk introspeksi diri sangat penting dilakukan oleh semua umat Islam. "dari pada kita selalu berdiskusi soal haram tidaknya peringatan maulid tersebut lebih baik kita instrospeksi sejauh manakah kita mengikuti sunnahnya" Papar Syakir.
Hal yang tidak kalah penting, menurut Syakir, adalah menteladani sikap kepemimpinan Nabi yang sungguh sangat uswah bagi umatnya. Hemat Syakir Nabi Muhammad tidak pernah menyuruh sesuatu yang belum pernah dia lakukan sendiri, sehingga begitu bermarwahnya Nabi di mata ummat.
Pemikir Concern ini mengharapkan, agar para pemimpin di negeri ini mengaji lebih luas tentang sifat-sifat kenabian, bagaimana Nabi memimpin umat, menyelesaikan konflik dan menjembatani kepentingan umat.
"Saya pikir kalau pemimpin di negeri ini memimpin dengan pola dan gaya Nabi Muhammad, tentu tidak akan ada pemimpin yang menghambur-hamburkan uang negara dengan banyak melakukan studi banding, korupsi dan lain sebagainya" pungkas Syakir.
oleh: AzisMaulana
