Anas Urbaningrum Dapat Jatah Bulanan dari Partai
JAKARTA--Pimpinan puncak pengurus harian DPP Partai
Demokrat, kini pengangguran. Anas Urbaningrum, sudah dua tahun tidak
punya pekerjaan, tepatnya sejak 23 Juli 2010, setelah dilantik menjadi
ketua umum.
Dia memilih mundur dari anggota DPR RI. Sekjen Edhi Baskoro Yudhoyono
menyusul pekan lalu, bertepatan dengan Valentine days, pekan lalu. Kini
keduanya mendapat jatah bulanan dari partai.
Bendahara Umum DPP PD Sartono Hutomo mengungkapkan, Partai Demokrat
mengalokasikan dana untuk pengurus partai yang menduduki jabatan
strategis.
Misalnya, ketua umum dan sekjen. Dana itu dialokasikan sebagai modal
untuk kegiatan partai. "Untuk kegiatan partai, biasanya dananya itu
untuk satu paket, itu ada ketum, sekjen, bendahara," kata Sartono kepada
TRIBUNnews.com, di Jakarta, Rabu (20/2).
Pemangku jabatan-jabatan strategis itu pun mendapat jatah bulanan
untuk kepentingan pribadi dan rumah tangganya. "Untuk pribadi, ada.
Nilainya berapa, saya enggak enak bilangnya. Nanti, tanya saja ke yang
lain. Tapi, kan kita-kita enggak mengandalkan uang kas dari partai. Saya
ada kegiatan di luar, ada perusahaan. Pak Ketum juga kegiatan,
perusahaan," ujar Sartono.
Anas mengundurkan diri dari keanggotaan DPR pada 23 Juli 2010,
setelah terpilih menjadi Ketua Umum PD. Anas ingin fokus membesar
partai. Pada pekan lalu, Ibas pun mengundurkan diri DPR dengan alasan
ingin sama, fokus mengurus partai.
Alasan lainnya, anak semata wayangnya, Airlangga Yudhoyono yang baru
berusia kurang daru dua bulan sedang jatuh sakit dan membutuhkan
perawatan intensif.
Selain itu, mantan anggota DPR RI berhak mendapat gaji pensiunan.
Sekalipun anggota DPR mundur atau terkena Pergantian Antar-Waktu
(PAW), asal memenuhi syarat minimal satu tahun menjabat di DPR, ia
berhak mendapat jatah uang pensiun Rp 2 juta per bulan untuk seumur
hidup.
Sartono mengakui, saat ini keuangan Partai Demokrat (PD)
berdarah-darah. Mencari uang untuk mendanai partai sangat sulit,
gara-garanya kasus korupsi sejumlah kader partai berimbas pada pemasukan
kas partai.
Jajaran pengurus bendahara partai berkuasa itu harus berjuang
mati-matian untuk mencari dana segar sebagai persiapan kegiatan politik
Pemilu 2014.
"(Presiden) yang dulu mungkin bisa mudah dapat pemasukan
untuk partai, tinggal tunjuk perusahaan atau kementerian. Pak SBY bisa
saja seperti dulu, tapi dia tidak mau. Nah, sekarang kira-kira kami yang
berdarah-darah," kata Sartono Hutomo.
Meski demikian, Sartono mengakui keuangan PD terbilang baik pada saat
menghadapi Pemilu 2009. Saat itu, pengelolaan keuangan dan pembiayaan
kegiatan partai dilakukan secara terpusat atau sentralistik di DPP.
Seiring waktu, semua itu berubah.
Saat ini pengelolaan keuangan partai dilakukan langsung pengurus partai di daerah atau desentralistik alias tanggung renteng.
"Misalnya, anggota DPR yang dari Demokrat ada dana aspirasi, nah dia
sendiri yang turun ke dapilnya, itu untuk kapitalisasi kegiatannya
nanti. Jadi, sekarang tidak lagi terpusat," ujar Sartono.
Ia mengungkapkan, sumber pemasukan kas partainya saat ini berasal
dari iuran bulanan dari kader PD yang menjadi anggota DPR dan kepala
daerah, seperti bupati, wali kota, dan gubernur. "(Saldo kas PD)
sekarang ada (sekitar Rp 100 miliar) kalau ditotal-total dengan dana
iuran bulanan Rp 10 juta dari anggota DPR yang 148 orang itu,"
ungkapnya.
"(Caleg PD nanti) mereka tak kena iuran, tapi mereka untuk mereka di dapilnya pakai biaya sendiri-sendiri," jelasnya.
Ia mengungkapkan, ada beberapa faktor membuat partainya kesulitan
mengumpulkan dana dari pihak luar, di antaranya pihak "sponsor" khawatir
dan cenderung takut menyumbangkan dananya ke PD lantaran adanya kasus
korupsi, pengawasan ketat sejumlah lembaga termasuk Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) dan Komisi Pemiliha Umum (KPU), serta belum ada gambaran
jelas tentang calon presiden yang akan terpilih di Pemilu 2014
mendatang.
Susilo Bambang Yudhoyono sudah menjabat dua kali. Pada Pemilihan
Presiden nanti, SBY tidak bisa lagi mengikuti maju sebagai kandidat
presiden.
"(Alasannya) pertama, sekarang kita enggak tahu siapa presidennya
nanti. Sekarang partai kami lagi dipelototi, jadinya keuangan sekarang
di daerah, dibagi-bagi, istilahnya tanggung renteng, misalnya menyiapkan
(dana) untuk saksi. Sekarang itu orang pada takut kena pusaran (kasus
dugaan korupsi)," ungkapnya.
Setor Tiap Bulan
Gaji anggota DPR mencapai puluhan juta per bulan.
Berdasarkan Surat Edaran Setjen DPR RI No. KU.00/9414/DPR RI/XII/2010
tentang Gaji Pokok dan Tunjangan Anggota DPR, total take home pay untuk
anggota DPR yang merangkap ketua alat kelengkapan adalah Rp 54,9 juta.
Sedangkan gaji untuk anggota DPR yang merangkap anggota alat
kelengkapan adalah Rp 51,5 juta. Dihitung-hitung, total take home pay
untuk anggota DPR yang merangkap ketua alat kelengkapan adalah Rp 54,9
juta, dan untuk anggota DPR yang merangkap anggota alat kelengkapan
adalah Rp 51,5 juta.
Sebagi pembanding, gaji dari anggota DPR tahun 2004 - 2009 gaji
bulanan Rp 46.100.000. Namun ditambah biaya tunjangan, biaya reses, dan
gaji ke-13, setiap anggota DPR RI per tahun kira-kria mencapai Rp 1
miliar per tahun.
Dari gaji itu, sebagian diserahkan ke parpol. Anggota Fraksi di DPR
ternyata memiliki sejumlah iuran untuk kebutuhan partai. Partai Demokrat
misalnya menarik dana Rp 6 juta kepada anggota fraksi untuk kas partai.
Wasekjen Demokrat Ramadhan Pohan mengatakan setiap anggota fraksi
diwajibkan iuran untuk kas partai. Ia mengungkapkan bahwa iuran tersebut
yang dapat menggerakan roda organisasi Demokrat.
"Iuran itu dari 148 anggota DPR RI dan ribuan anggota DPRD Tingkat I
dan II," kata Ramadhan kepada Tribunnews.com, Selasa (19/2).
Dana tersebut, kata Ramadhan, langsung masuk ke kas partai. Namun,
Ramadhan menegaskan sebagai pengurus partai, ia tidak menerima gaji. Hal
itu juga berlaku bagi Ketua Umum dan Sekjen.
"Saya Wasekjen engga digaji, kalau OB (Office Boy) digaji, (Ketum) engga ada digaji," kata Wakil Ketua Komisi I DPR itu.
Ketika ditanyakan bagaimana penghasilan Ketua Umum Anas Urbaningrum
yang mundur dari anggota DPR, ia mengaku tidak tahu. "Penghasilan orang
aku engga tahu, saya Wasekjen hanya digaji di DPR dan iuran setiap bulan
Rp 6juta dan akan ditingkatkan," imbuhnya.
Sementara Ketua DPP PKS Indra mengatakan setiap anggota Fraksi PKS
dikenakan iuran sebesar Rp 20juta. Dana tersebut terbagi RP 20juta untuk
DPP dan sisanya untuk fraksi PKS. Indra mengatakan anggota DPR
mendapatkan gaji sekitar Rp 50 juta rupiah.
"PKS memang sepengetahuan saya terbesar. Partai lain ada yang dibawah Rp 5 juta," katanya.
Anggota Komisi III itu mengungkapkan PKS dapat menjadi besar karena
didanai dari kadernya sendiri. Ia mengatakan iuran tersebut tidak hanya
berlaku bagi anggota DPR, namun juga Gubernur, Walikota asal PKS.
"Kader PKS pun mereka menginfaqkan. Ada zakat profesi, ada infaq, ada
iuran, berjenjang penghasilan setiap orang berbeda-beda," tutur Indra.
Ketika ditanyakan apakah Presiden PKS dan Sekjen mendapatkan gaji,
Indra mengatakan pengurus tidak mendapatkannya. Namun, diakuinya
Presiden PKS Anis Matta mendapatkan dana operasional kepartaian.
"Umpamanya safari dakwah keliling, aktivitas itu didanai dari kas
partai, dan kas partai dari kader dan pejabat publik," imbuhnya.
Indra mengatakan dana partai paling besar berasal dari kader. Ia
menceritakan saat belum menjadi anggota DPR, penghasilannya dipotong 2-5
persen. Indra mengatakan bila Presiden PKS memiliki kartu ATM dari PKS
untuk aktivitas partai.
"Langsung dipegang presiden partai untuk beraktifitas," katanya.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PKS Sahfan Badi Sampurno mengatakan anggota DPP PKS digaji.
"Oleh partai dibiayai, besarannya tergantung pengeluaran dia, kalau
anaknya banyak tunjangannya besar. Kalau saya dulu sebelum jadi anggota
DPR tapi pengurus parpol dapat Rp 5 jutaan. Tapi kalau fresh graduate Rp
1,5 juta," ungkapnya.
Sedangkan untuk Golkar, iuran tersebut bervariasi. Ketua DPP Golkar
Agun Gunanjar mengaku ia melakukan iuran sebesar Rp 5 juta per bulan.
Sementara Wakil Bendahara Umum Golkar Bambang Soesatyo mengungkapkan
adanya iuran Rp 3 juta.
Sementara Wasekjen Golkar Tantowi Yahya mengaku setiap bulan ia iuran
Rp 2 juta ke fraksi. Agun Gunanjar mengatakan selain iuran kepartai,
Ketua Komisi II juga menyumbang untuk dapil Rp 5 juta setiap bulan.
Mengenai fasilitas Ketua Umum dan Sekjen, Agun mengatakan partai
berlambang pohon beringin itu tidak memberikan gaji kepada mereka.
"Mereka sendiri, kita mandiri. Jadi orang partai mandiri dong," ujar
Agun. (tribunnews/coz/fer/mal)
