Komunisme Diwaspadai Bonceng Euforia Reformasi
PAMEKASAN – Bahaya laten komunisme di Indonesia, tetap diwaspadai
meski secara kelembagaan organisasi PKI sudah dibubarkan. Pasalnya, dari
segi pemikiran cara berfikir komunisme dikhawatirkan tetap muncul dan
berkembang. Fenomena ini dinilai sudah mulai muncul sejak era reformasi
bergulir.
Itulah sebagian kesimpulan dari sarasehan nasional
“Mewaspadai Munculnya Kembali Komunisme di Indonesia’’ yang dilaksanakan
oleh STAIN Pamekasan, kemarin. Pemateri yang dihadirkan dalam acara itu
diantaranya KH Hazim Muzadi, Brigjen Pol. Dr. Anton Tabah Staf Ahli
Kapolri, Mayjen (Pur) Kivlan Zen dan KH Slamet Efendy Yusuf salah satu
Ketua PBNU.
KH Hazim Muzadi mengatakan, komunisme bisa muncul
lagi di Indonesia melalui gerakan pemikiran dengan berlindung di balik
demokratisasi, HAM dan lain sebagainya. Dan itu sudah masuk ke berbagai
elemen masyarakat. Belakangan ini, kata dia, gerakan itu sudah mulai
sangat terasa. Karena itu yang harus dilakukan adalah memperkuat dan
memperbanyak dakwah untuk menyelamatkan umat.
“Salah satu contoh sederhana adalah misalnya di sebuah tempat ada konflik antar Islam dan Kristen.
Ternyata
setelah diteliti yang pertamakali berulah atau profokatornya adalah
orang yang baru dua hari saja masuk kristen. Nah inilah faktanya. Jadi
bukan karena Islam dan Kristen, namun orang yang baru masuk Kristen itu
siapa, wajib diwaspadai,” ajaknya.
Sementara itu Anton Tabah
mengungkapkan bahwa belakangan ini orang-orang komunis dan keturunannya
mencoba untuk membalikkan sejarah dengan cara menuduh orang atau
kelompok lain yang yang harus bertanggungjawab terhadap Gerakan
30S/PKI. Salah satu yang dituduhnya adalah TNI. Dia kemudian menunjuk
sebuah laporan khusus yang dimuat sebuah majalah yang didalamnya
menyudutkan dan menyalahkan TNI.
Anton lalu kemudian
mengungkapkan berbagai indikasi yang bisa menyebabkan PKI bangkit
kembali. Antara lain dengan memanfaatkan euphoria reformasi, memaknai
kebebasan ala barat berlindung dibalik dimokrasi, paksakan HAM dan
abaikan agama. Dan memanfaatkan kobodohan, kemiskinan, ketidak adilan
ekonomi, ketidak adilan hukum, dan dibalik keraguan terhadap aparat.
‘PKI
atau komunisme itu sekarang seolah olah menbela rakyat dengan cara
pakai baju lain atau topeng. Dan yang paling perlu diwaspadai dan perlu
dijaga adalah adanya berbagai macam bentuk radikalisasi yang muncul
belakangan ini. Misalnya radikalisasi dalam kebebasan, HAM, ekonomi,
Politik, ediologi, demokrasi dan agama,” ungkapnya.
Karena itu
Anton Tabah mengajukan berbagai strategi atau upaya mencegah bangkitnya
ideology komunisme di Indonesia, antara lain dengan cara mefahami agama
secara sungguh sungguh. Kawal ketat amalan Pancasila dan UUD 1945,
kebebasan yang berdasar moral dan agama, kawal ketat TAP MPR NO
XXV/1966 dan UU 27/1999, tingkatkan disiplin kerja dan etos kerja.
Mayjend
(Pur) Kivlan Zen mengaku banyak tahu persis tentang penghiantan PKI.
Dia mengaku termasuk saksi sejarah dalam penghiatan PKI. Menurut dia PKI
akan menghalkan segala macam cara untuk merebut kekuasaan. Dan PKI bisa
masuk keberbagai elemen masyarakat. Termasuk saat itu masuk
mempengaruhi kalangan meliter.
Sementara itu Slemet Efendy
Yusuf Ketua PB NU mengatakan ideology dan cara berfikir komunis telah
masuknya merasuki banyak elemen, masyarakat, baik kalangan muda dan
mahasiswa, dikalangan birokrasi maupun dikalangan anggota legislatif.
Dia kemudian mencontohkan seorang anak PKI yang kini menjadi anggota DPR
RI.
“Bagaimana juga PKI teklah menghiaanati dan mencoba
menghancurkan bangsa. Bagaimana tidak seorang anak PKI sekarang betanin
menulis buku bisa bangga menjadi anak penghianat seperti itu. Ini sudah
masuk di perlemen orang orang seperti ini. Bagaimanapun juga komunisme
tetap harus kita waspadai,” tandasnya.(surabayapost.co.id)
