BADAYA UNAS

Oleh : Endang Kelana, S. Sos
Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 mei ini mendapatkan hadiah dari pemerintah yaitu berupa tidak terlaksana Ujian Nasional (UNAS) secara serentak dan adanya penolakan UNAS 2013 dari berbagai kalangan baik itu dari gurua-guru dan masyarakat, sehingga adanya pro dan kontrak antara mendikbud dan guru-guru yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah mengenai UNAS. Akan tetapi di dalam pelaksanaan UNAS itu sendiri masyarakat memiliki budaya tersendiri yaitu budaya sebelum dan sesudah UNAS.
Pertama budaya spiritual, salah satunya di Kudus, Jawa Tengah. Guru sekolah mengajak muridnya berziarah ke makam Sunan Kudus untuk mencari berkah agar lulus ujian. Sedangkan di Bogor dan Semarang, ada sekolah yang mengundang motivator dan psikolog untuk mempersiapkan mental dan semangat siswa. Nah, cerita-cerita menarik tentang ritual persiapan para pelajar menjelang UNAS memang menggelitik. Ada juga ritual siswa mencuci kaki ibu sebelum mengikuti ujian. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun. Ritual-ritual itu masih dilestarikan hingga kini. Dan dari berbagai ritual itu sepertinya ada yang dilakukan secara individual, ada juga yang dilakukan secara kolektif atau massal. Dari yang lazim hingga yang sedikit mengherankan, bahkan ada juga yang berbau syirik.
Sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban melaksanakan shalat yang lima waktu, namun kewajiban ini belum tentu kita laksanakan dengan istiqomah, padahal disela-sela shalat lima waktu itu ada waktu yang mustajab untuk berdo'a dan memohon pertolongan Allah SWT, selain shalat lima waktu, juga terdapat amalan lain yang memiliki faedah luar biasa diantaranya adalah shalat malam atau shalat tahajjud.
Jika kita mengetahui manfaat dari amalan-amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ini maka kita tidak akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran islam, apalagi berpotensi pada terjerumusnya pada lembah kesyirikan.
Kedua budaya menyontek, budaya ini sudah hal biasa ketika pelaksanaan UNAS tiba, sehingga aneh sekali kalau ada seorang murid/ anak didik yang melaporkan kepada dinas pendidikan, salah satunya yang dialami oleh anak SD Negeri Gadel 2 Surabaya. Seorang anak pintar, putra Ny Siami, dipaksa wali kelasnya memberikan contekan secara massal kepada teman-temannya pada saat Ujian Nasional SD dua tahun yang lalu. Tidak setuju dengan tindakan guru sekolah tersebut, Ny Siami melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan Surabaya.
Akibat perbuatan guru wali kelas tersebut, Dinas Pendidikan kemudian memberi hukuman mutasi dan penurunan pangkat kepada oknum guru dan kepala sekolah (yang dianggap ikut bertanggung jawab). Yang sangat prihatin pada waktu itu warga sekitar sekolah yang tidak lain orangtua murid-murid SDN Gadel 2 tidak terima dengan hukuman tersebut, mereka marah kepada Ny Siami dan keluarganya. Warga berunjuk rasa dan mengecam Ny Siami yang dianggap sok pahlawan, dan puncaknya warga mengusir keluarga Ny Siami keluar dari kampung.
Inilah sebuah fakta seorang yang ingin berbuat jujur tapi orang sekitarnya tidak menyukainya. Memang sulit untuk menjadi orang jujur dan bersih dari pada menjadi orang yang tidak jujur dan kotor. menjadi orang baik dan jujur itu perlu niat, tekad dan usaha yang istiqamah, sebaliknya, menjadi orang kotor sangatlah mudah.
Ketiga budaya coret-coret dan konvoi, dalam hal ini pemerintah lembaga pendidikan dan penegak hukum masih belum bisa mengatasi masalah ini kita lihat saja grafik dekadensi moral pelajar tampaknya makin naik. Jika di tahun 2010 saat konvoi perayaan kelulusan SMA, sejumlah siswi menyobek roknya serta melepas kerudungnya dan lalu dikibar-kibarkan, dan di tahun yang lalu ada siswi yang kedapatan bertelanjang dada, serta perbuatan amoral lainnya seperti berfoya-foya, pesta minuman keras dan semacamnya.
tahun lalu, disebuah daerah, konvoi kelulusan ratusan pelajar lulusan SMA, SMK, dan MA diwarnai aksi penjarahan kepada para pedagang kaki lima dan mengambil berbagai jenis makanan ringan dan minimum. Akibatnya, di antara pedagang itu ada yang mengaku rugi setengah juta rupiah. Selain berkonvoi, ada juga yang melanjutkan pesta mereka dengan melakukan mesum, sex dan dugem.
Apa yang diperagakan pelajar di atas, membuat 'sempurna' kenyataan pendidikan di Negara ini, bahwa mayoritas lembaga pendidikan masih belum mampu melahirkan individu-individu berkarakter dan berbudi luhur, dan tentulah itu semua menambah keprihatinan kita, di tengah banyaknya jumlah pelajar yang tak lulus UNAS, malah yang lulus merayakannya dengan cara yang jauh dari kesan kaum yang beradab.
kejadian-kejadian itu haruslah menjadi kajian dan evaluasi terhadap proses pendidikan yang diselenggarakan oleh pelaku dan stake holder pendidikan di Negara ini, kajian dan evaluasi dilanjutkan dengan melakukan perbaikan sistem pendidikan, kurikulum, sistem pengajaran, dan sebagainya.
