Kisah Sepeda Tua Profesor Lafran
IndecsOnline--Bila para kader HMI ingin menengok kesederhanaan dan keteguhan hati dalam menjalani hidup, teladan ini sudah diberikan oleh pendirinya, yakni Prof Drs Lafran Pane. Mendiang Guru Besar Tata Negara IKIP Yogyakarta ini telah memberikan contohnya secara konkret. Lafran yang lahir di Padangsidempuan, 5 Februari 1922, sangat terkenal dengan sikap hidup yang qanaah itu.
''Saya terkesima dan terkesan dengan sikap hidup Profesor Lafran yang sangat sederhana dan selalu merasa cukup. Beliau punya intelegensia yang tinggi sekaligus orang yang sangat teguh hati. Yang paling penting lagi beliau sangat terbuka untuk dikritik serta melakukan dialog,'' kata mantan anggota DPR dan sekaligus mantan ketua umum HMI cabang Yogyakarta periode 1983-1984, Lukman Hakiem.
Menurut dia, kesederhanaan hidup dari Lafran itu terlihat jelas dalam sikapnya yang selalu memilih naik sepeda ke manapun perginya di Yogyakarta. Tak peduli menjadi guru besar di berbagai universitas terkemuka dan tak peduli merasa risi bersaingan dengan mahasiswanya yang saat itu sudah banyak naik sepeda motor, Lafran tetap 'istiqamah' memilih mengayuh sepeda onthelnya. Bahkan, ketika dia diisengi oleh para mahasiswanya dengan mengerakkan sepedanya di tiang bendera di depan kampus, dia pun menanggapinya dengan sikap biasa saja.
''Ya, itulah Pak Lafran. Bahkan, ketika para alumni merasa terenyuh ingin mengganti kursi sofa rumahnya yang sudah tua, dia tetap menolaknya. Sudah tak usah, sudah cukup. Itu yang selalu beliau katakan dan terkenang sampai sekarang,'' ujar Lukman. (Republika.co.id)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
